Pengembangan WebGIS "Peta Kerja Lahan Baku Sawah" Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta: Rekayasa Pipeline Data Geospasial Skala Besar dan Rancangan Instrumen Pemutakhiran Kronologis Berbasis Partisipasi Petani dan Penyuluh

23 August 2026

By: Alvito Krishna Balapradhana

Open Project

LBS_DIY

Peta Kerja Lahan Baku Sawah DIY: Menghidupkan Kembali Riwayat Setiap Petak Sawah

Abstrak

Lahan Baku Sawah (LBS) merupakan basis data spasial strategis yang menjadi rujukan perencanaan tata ruang dan penyaluran subsidi pertanian. Namun, data LBS pada praktiknya kerap tersimpan sebagai berkas berukuran sangat besar yang tidak dapat dikonsumsi peramban, sekaligus memiliki tingkat kelengkapan atribut agronomis yang sangat rendah. Penelitian ini berfokus pada pengembangan aplikasi WebGIS yang ditujukan untuk menampilkan dan mendata detail Lahan Baku Sawah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sistem ini dirancang secara khusus agar petani dan penyuluh pertanian dapat mengisi detail kronologis lahan secara interaktif.

Data primer GeoJSON LBS D.I. Yogyakarta (300,62 MB) yang memuat 76.222 bidang lahan diproses melalui pipeline ekstraksi–transformasi–pemuatan (ETL). Pipeline memecah data menurut lima kabupaten/kota, memisahkan geometri dari atribut, dan mereproyeksikan koordinat ke EPSG:32749 (UTM Zona 49S). Aplikasi dibangun menggunakan Vite 8 dan MapLibre GL JS 5.

Hasil penelitian menunjukkan total luas LBS D.I. Yogyakarta pada UTM 49S adalah 66.823,94 Ha. Temuan paling kritis dari data LBS adalah 40 dari 50 kolom atribut (80%) berisi nilai kosong mutlak pada seluruh bidang. Hal ini membuktikan bahwa data LBS saat ini hanya berupa peta batas bidang, tanpa informasi agronomis aktual.

Sebagai solusi, WebGIS ini menghadirkan model data "bidang–peristiwa" (kronologis) dan menyediakan instrumen pemutakhiran atribut langsung di sisi pengguna. Strategi ini memungkinkan petani atau penyuluh memperbarui kondisi lahan, komoditas, atau status alih fungsi langsung dari lapangan melalui peramban.

Kata Kunci: Lahan Baku Sawah; WebGIS partisipatif; pendataan kronologis; MapLibre GL JS; Daerah Istimewa Yogyakarta

BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Ketahanan pangan nasional bertumpu pada ketersediaan lahan sawah yang terjaga luas dan produktivitasnya. Instrumen teknis yang menjadi rujukan utama dalam pelestarian ini adalah data Lahan Baku Sawah (LBS).

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menghadapi tekanan alih fungsi lahan sawah yang intens. Namun, pemantauan dan pendataan alih fungsi ini terhambat oleh dua kendala utama:

  1. 1.
    Aksesibilitas Data: Berkas sumber LBS DIY memiliki ukuran raksasa (300,62 MB untuk 76.222 bidang) yang membuat peramban membeku jika dimuat sekaligus. Data ini sulit diakses oleh petugas lapangan.
  1. 2.
    Kekosongan Atribut & Ketiadaan Riwayat: Struktur atribut LBS sangat kompleks, namun tingkat keterisiannya sangat rendah. Data LBS hanya menyajikan potret statis dari satu waktu. Ketika sebuah sawah berubah menjadi lahan kering atau beralih fungsi, perubahan kronologis ini tidak terekam dalam sistem.

Di sisi lain, petani dan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) adalah pihak yang paling mengetahui kondisi detail dan kronologis setiap bidang lahan. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah platform WebGIS yang tidak hanya mampu menampilkan data LBS secara ringan, tetapi juga berfungsi sebagai instrumen pendataan di mana petani dan PPL dapat memasukkan pembaruan data secara langsung.

1.2. Permasalahan

  • Bagaimana merancang arsitektur WebGIS yang mampu menampilkan 76.222 bidang LBS secara interaktif tanpa kendala performa di peramban pengguna?
  • Bagaimana merancang antarmuka dan instrumen pemutakhiran data yang memungkinkan petani dan penyuluh mengisi riwayat kronologis lahan (seperti status tanam, bera, atau alih fungsi) langsung dari peta?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan utama penelitian ini adalah membangun aplikasi WebGIS yang berfungsi penuh untuk menampilkan sebaran LBS di Provinsi DIY sekaligus menjadi platform pendataan interaktif. Secara khusus, WebGIS ini bertujuan menyediakan formulir pemutakhiran atribut kronologis di sisi klien agar petani dan PPL dapat dengan mudah melengkapi kekosongan data LBS.

BAB II. METODE PENELITIAN

2.1. Lokasi Penelitian

Penelitian mencakup wilayah administratif DIY yang memuat LBS, meliputi 5 kabupaten/kota yang seluruhnya berada di zona EPSG:32749 (UTM Zona 49S):

  • Kabupaten Sleman: 17 Kecamatan / 34.328 Bidang
  • Kabupaten Bantul: 17 Kecamatan / 9.278 Bidang
  • Kabupaten Kulon Progo: 12 Kecamatan / 4.602 Bidang
  • Kabupaten Gunungkidul: 18 Kecamatan / 27.970 Bidang
  • Kota Yogyakarta: 4 Kecamatan / 44 Bidang

2.2. Instrumen Pendataan Kronologis (Model Bidang-Peristiwa)

Untuk memfasilitasi pendataan oleh petani/PPL, WebGIS ini memperkenalkan variabel entitas peristiwa (kronologis bidang). Model ini mencatat riwayat perubahan lahan tanpa merusak data batas geometri aslinya. Elemen data yang dikumpulkan meliputi:

Tanggal Kejadian & Tanggal Lapor: Waktu terjadinya peristiwa di lapangan. Jenis Peristiwa: Tanam, panen, bera, alih fungsi, cetak sawah, rehabilitasi irigasi. Komoditas & Indeks Pertanaman: Informasi agronomis lahan terkini. Status Validasi & Peran Pelapor: Menandakan apakah pelapor adalah petani, ketua Poktan, atau PPL, beserta status verifikasinya.

2.3. Diagram Alir Sistem

Alur kerja pengembangan berpusat pada optimasi data dan antarmuka pendataan partisipatif.

Code snippet

flowchart TD A["Raw Data (300,62 MB)"] --> B["Pipeline Build (Node.js)"] B --> C1["Layer Geometri (Ringan)"] B --> C2["Layer Atribut Lengkap"] B --> C3["Layer Statistik (11 KB)"] C3 --> D["Landing Page"] C1 & C2 --> E["Halaman WebGIS (MapLibre GL JS)"] E --> F["Fitur Eksplorasi & Visualisasi"] E --> G["Instrumen Pendataan oleh PPL/Petani"] G --> H["Klik Bidang Lahan → Tampil Form Input Kronologis"] H --> I["Data Tersimpan Sementara (Client-side)"]

BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil Optimasi Penyajian Data

Strategi pemisahan geometri dan atribut melalui pipeline berhasil menurunkan volume data unduhan awal hingga rasio 1:26.487. Halaman utama kini hanya memuat 11.901 byte berkas statistik, menjadikan WebGIS sangat ringan diakses melalui perangkat seluler (perangkat utama PPL di lapangan).

3.2. Penemuan Kekosongan Atribut Data LBS

Pemindaian pada 76.222 bidang menghasilkan temuan bahwa 80% dari total kolom atribut (40 dari 50 kolom) sepenuhnya kosong. Tidak ada satu pun informasi agronomis, kepemilikan, atau riwayat tanam yang terisi. Hal ini mengukuhkan urgensi ketersediaan instrumen pengisian data mandiri pada WebGIS.

3.3. Sistem Pendataan oleh Petani dan Penyuluh

Fitur ini adalah inovasi inti dari aplikasi WebGIS yang dibangun. Alur kerjanya dirancang khusus mengikuti logika petugas lapangan:

  1. 1.
    Identifikasi Visual: Saat peta diakses, petani/PPL dapat mencari bidang sawah mereka.
  1. 2.
    Lencana Kekosongan (Badge): Saat sebuah bidang diklik, sistem akan menampilkan detail atribut. Setiap kolom data yang masih kosong ditandai secara visual dengan lencana "Belum diisi" berwarna merah, menuntun pengguna pada data apa yang harus dilengkapi.
  1. 3.
    Pengisian Kronologis Tunggal & Massal: Disediakan formulir khusus untuk mencatat "Peristiwa" baru pada lahan tersebut. PPL dapat menyeleksi banyak bidang sekaligus (lasso tool) untuk mengisi data komoditas atau status irigasi dalam satu hamparan yang seragam, mempercepat proses entri puluhan bidang lahan.
  1. 4.
    Dukungan Survei Lapangan: Aplikasi menyediakan fitur cetak layout kartografis (GeoPDF) berkoordinat. PPL dapat mengunduh peta, membawanya luring (offline) ke lapangan, dan memperbarui datanya kembali di WebGIS saat koneksi tersedia.

BAB IV. KESIMPULAN

Aplikasi WebGIS ini berhasil memenuhi fungsinya sebagai medium penyaji visual sekaligus platform pendataan interaktif untuk Lahan Baku Sawah di Provinsi D.I. Yogyakarta.

Dengan memecah bottleneck data berukuran raksasa menjadi layer yang sangat ringan, aplikasi ini sukses dibawa ke layar peramban ponsel para petugas di lapangan. Lebih dari sekadar peta, WebGIS ini menyoroti kekosongan atribut historis pada data LBS resmi dan memberikan solusi langsung berupa "Instrumen Pemutakhiran Kronologis". Melalui antarmuka yang ramah pengguna, fitur pengisian tunggal maupun massal (lasso selection) memungkinkan petani dan penyuluh pertanian untuk memperbarui status lahan, merekam alih fungsi, dan mencatat riwayat tanam secara langsung, mengubah data LBS dari peta statis menjadi basis data pertanian yang dinamis.

Daftar Pustaka

  1. 1.
    Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Lembaran Negara RI Tahun 2009 Nomor 149.
  1. 2.
    Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional. (2019). Keputusan Menteri ATR/Kepala BPN tentang Penetapan Luas Lahan Baku Sawah Nasional.
  1. 3.
    Goodchild, M. F. (2007). Citizens as Sensors: The World of Volunteered Geography. GeoJournal, 69(4), 211–221.
  1. 4.
    Haklay, M. (2013). Citizen Science and Volunteered Geographic Information: Overview and Typology of Participation. Dalam Crowdsourcing Geographic Knowledge. Springer.
  1. 5.
    MapLibre Organization. (2025). MapLibre GL JS Documentation.
  1. 6.
    MAPID. (2025). GEO MAPID Platform Documentation. PT MAPID.

Data Publications

Plantation Spatial Explorer: Deteksi Dini Block Underperform di Perkebunan Sawit melalui Integrasi Peta dan Data Operasional

Agriculture

22 Aug 2026

Haidar Ismail

Plantation Spatial Explorer: Deteksi Dini Block Underperform di Perkebunan Sawit melalui Integrasi Peta dan Data Operasional

Plantation Spatial Explorer dibangun untuk menjembatani dua dunia yang biasanya terpisah ini: data spasial (batas Estate dan Block) dan data operasional (produksi, pupuk, sampel daun), digabung jadi satu WebGIS interaktif yang bisa langsung menunjukkan di mana masalah terjadi, seberapa parah, dan apakah itu kasus terisolasi atau pola bersama dengan block tetangganya — tanpa manager harus scroll tabel satu per satu.

9 min read

82 view

MangroveSight: Solusi Pemantauan Perubahan Hutan Mangrove Teluk Balikpapan melalui WebGIS

Environment

21 Aug 2026

Titanio Yudista

MangroveSight: Solusi Pemantauan Perubahan Hutan Mangrove Teluk Balikpapan melalui WebGIS

MangroveSight adalah WebGIS interaktif untuk memantau dan memahami perubahan sebaran serta luas hutan mangrove di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur, pada periode 2007–2022. Platform ini menyediakan peta berdasarkan tahun, perbandingan area yang hilang dan bertambah, heatmap, grafik statistik, ekspor data, serta AI Assistant berbasis ringkasan data mangrove.

33 min read

102 view

Pengembangan Sistem Informasi Geografis WebGIS untuk Penilaian Aksesibilitas Hunian di Kota Surakarta

Real Estate

20 Aug 2026

Harizky Arfianto

Pengembangan Sistem Informasi Geografis WebGIS untuk Penilaian Aksesibilitas Hunian di Kota Surakarta

WebGIS Kota Surakarta: Platform interaktif untuk penilaian aksesibilitas hunian dengan data spasial resmi, fitur klasterisasi, dan filter kategori berbasis MapLibre GL.

20 min read

113 view

1 Projects

Analisis Lokasi Potensial Pengembangan Creative Hub Berbasis MICE Sebagai Ruang Publik Kreatif di Kota Surakarta

Tourism

10 Apr 2026

Salina Dhiya Zahrani

Analisis Lokasi Potensial Pengembangan Creative Hub Berbasis MICE Sebagai Ruang Publik Kreatif di Kota Surakarta

Kota Surakarta dikenal sebagai kota dengan icon budaya dan aktivitas kreatif yang terus berkembang. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya didukung oleh ruang yang mampu mewadahi interaksi, kolaborasi, dan pertumbuhan ekonomi kreatif secara optimal. Salah satu pendekatan yang dapat menjawab kebutuhan tersebut adalah pengembangan creative hub berbasis MICE (Meetings, Incentives, Conferences, Exhibitions).

10 min read

2560 view

1 Projects

Terms and Conditions
Introductions
  • MAPID is a platform that provides Geographic Information System (GIS) services for managing, visualizing, and analyzing geospatial data.
  • This platform is owned and operated by PT Multi Areal Planing Indonesia, located at