Latar Belakang
Jawa Timur memiliki bentang alam pegunungan yang luas dengan berbagai destinasi pendakian yang menjadi tujuan wisata alam dan aktivitas luar ruang. Gunung Semeru, Bromo, Kelud, Ijen, Arjuno, hingga berbagai gunung lainnya memiliki karakteristik medan, aksesibilitas, dan tingkat aktivitas yang berbeda. Kondisi tersebut membuat informasi spasial menjadi penting, bukan hanya untuk mengetahui lokasi dan jalur pendakian, tetapi juga untuk memahami kondisi kawasan di sekitarnya.
Informasi seperti lokasi gunung, jalur pendakian, basecamp, dan pos pendakian dapat membantu perencanaan perjalanan. Namun, informasi tersebut belum cukup untuk memberikan gambaran mengenai keterkaitan antara akses pendakian dan potensi risiko kawasan. Pada wilayah yang memiliki aktivitas vulkanik maupun potensi bencana alam lainnya, aspek jarak terhadap kawasan risiko dan keterjangkauan suatu lokasi juga perlu diperhatikan.
Salah satu informasi penting dalam mitigasi bencana gunung api adalah Kawasan Rawan Bencana (KRB). Peta KRB resmi disusun berdasarkan karakteristik bahaya masing-masing gunung dan menjadi salah satu acuan dalam upaya pengurangan risiko bencana. Karena karakteristik bahaya maupun informasi kebencanaan dapat diperbarui, informasi dari WebGIS ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan informasi resmi dari PVMBG, BPBD, pengelola kawasan, maupun instansi berwenang lainnya.
Permasalahan tersebut mendorong pengembangan East Java Hike Master, sebuah WebGIS yang menggabungkan informasi pendakian dengan analisis spasial dalam satu platform interaktif. Selain menampilkan lokasi gunung dan jalur pendakian, aplikasi ini menyediakan dua pendekatan analisis, yaitu Dynamic Buffer untuk memvisualisasikan radius area risiko dan Isochrone untuk menggambarkan jangkauan perjalanan berdasarkan waktu.
Dengan pendekatan tersebut, peta tidak hanya menjawab pertanyaan “di mana lokasi gunung dan jalurnya?”, tetapi juga membantu mengeksplorasi pertanyaan yang lebih spasial: seberapa dekat suatu jalur dengan area analisis risiko dan sejauh mana kawasan dapat dijangkau dalam waktu tertentu?
Gambar 1. Tampilan utama East Java Hike Master sebagai WebGIS interaktif untuk pemetaan jalur pendakian dan analisis mitigasi kawasan gunung di Jawa Timur.
Data dan Metodologi
Data yang Digunakan
East Java Hike Master dikembangkan menggunakan beberapa jenis data spasial yang saling terintegrasi. Data utama terdiri atas titik puncak gunung, jalur pendakian, basecamp, pos pendakian, atribut gunung, serta basemap. Sepuluh gunung yang digunakan dalam aplikasi adalah Semeru, Bromo, Kelud, Ijen, Arjuno, Buthak, Gragal, Cendono, Lorokan, dan Watu Jengger.
Data jalur pendakian digunakan untuk menggambarkan jaringan akses menuju kawasan gunung, sedangkan basecamp dan pos pendakian berfungsi sebagai informasi pendukung sekaligus titik awal dalam analisis Isochrone.
Untuk memberikan konteks spasial yang berbeda, aplikasi menyediakan MAPID Satellite Map sebagai basemap utama, dengan Topographic Map dan OpenStreetMap sebagai alternatif. Data spasial dipersiapkan menggunakan QGIS dan diekspor dalam format GeoJSON dengan sistem koordinat WGS 84 (EPSG:4326).
Pengolahan dan Pengembangan WebGIS
Tahap preprocessing dilakukan menggunakan QGIS untuk memeriksa geometri, menyusun atribut, menyesuaikan sistem koordinat, mengelompokkan layer, dan menyiapkan data agar dapat digunakan pada aplikasi web.
Data kemudian dikelompokkan berdasarkan jenis geometri dan fungsi, yaitu titik untuk puncak gunung, basecamp, dan pos pendakian; garis untuk jalur pendakian; serta polygon untuk hasil Dynamic Buffer dan Isochrone. Struktur ini memungkinkan setiap informasi ditampilkan secara independen dan dikontrol melalui layer pada WebGIS.
Aplikasi dikembangkan menggunakan HTML, CSS, dan JavaScript dengan MapLibre GL JS sebagai library pemetaan. MapLibre digunakan untuk mengelola peta interaktif, layer, popup, marker, kontrol navigasi, dan interaksi pengguna.
Secara umum, alur pengembangan terdiri atas:
Pengumpulan Data → Preprocessing QGIS → GeoJSON → Visualisasi MapLibre → Analisis Turf.js & OpenRouteService → WebGIS Interaktif
Dynamic Buffer sebagai Visualisasi Radius Risiko
Salah satu analisis utama pada WebGIS adalah Dynamic Buffer. Analisis ini digunakan untuk memberikan gambaran mengenai cakupan area berdasarkan radius tertentu dari lokasi gunung.
Perhitungan dilakukan secara client-side menggunakan Turf.js. Nilai radius disimpan sebagai atribut pada masing-masing data gunung sehingga polygon dapat dibentuk secara dinamis sesuai parameter yang digunakan. Perbedaan radius menghasilkan cakupan area yang berbeda dan dapat diamati langsung pada peta.
Namun, terdapat hal penting dalam membaca hasil ini. Buffer yang digunakan pada aplikasi merupakan model penyederhanaan berbasis radius, bukan representasi geometris resmi Kawasan Rawan Bencana. Kondisi nyata kawasan rawan bencana dapat dipengaruhi oleh karakteristik sumber bahaya, topografi, arah aliran material, dan faktor geografis lainnya.
Oleh karena itu, Dynamic Buffer pada East Java Hike Master diposisikan sebagai media visualisasi dan eksplorasi spasial, bukan sebagai pengganti peta KRB resmi.
Isochrone untuk Melihat Jangkauan Berdasarkan Waktu
Analisis kedua adalah Isochrone, yang digunakan untuk menggambarkan wilayah yang secara teoritis dapat dijangkau dari suatu titik awal dalam batas waktu tertentu.
Analisis dilakukan menggunakan OpenRouteService dengan mode perjalanan berjalan kaki. Titik awal berasal dari basecamp atau pos pendakian yang tersedia pada data. Dua skenario waktu digunakan dalam aplikasi, yaitu 1 jam dan 2 jam. Hasilnya kemudian divisualisasikan dalam bentuk polygon jangkauan waktu.
Berbeda dengan buffer yang memiliki karakter relatif radial, polygon Isochrone mengikuti jaringan perjalanan yang tersedia. Akibatnya, bentuk jangkauan tidak selalu berupa lingkaran dan dapat memanjang mengikuti konektivitas jalur.
Hal ini memberikan perspektif yang berbeda terhadap aksesibilitas. Jarak yang dekat belum tentu berarti waktu tempuh yang sama, karena keterjangkauan juga dipengaruhi oleh jaringan perjalanan yang tersedia.
Dalam konteks mitigasi, hasil tersebut dapat digunakan sebagai gambaran awal mengenai aksesibilitas kawasan berdasarkan waktu. Namun, hasil Isochrone tidak merepresentasikan waktu evakuasi aktual karena kondisi medan, kemiringan lereng, cuaca, kondisi jalur, kemampuan fisik, maupun hambatan di lapangan dapat memengaruhi waktu perjalanan sebenarnya.
Hasil dan Analisis
Peta Interaktif Kawasan Gunung Jawa Timur
Hasil akhir pengembangan berupa East Java Hike Master, sebuah WebGIS yang dapat digunakan melalui browser untuk mengeksplorasi informasi gunung dan jalur pendakian.
MAPID Satellite Map digunakan sebagai basemap utama, sementara Topographic Map dan OpenStreetMap dapat dipilih sesuai kebutuhan interpretasi. Pada peta tersedia layer puncak gunung, jalur pendakian, basecamp, pos pendakian, Dynamic Buffer, dan Isochrone.
Struktur layer yang dapat diaktifkan dan dinonaktifkan memungkinkan pengguna membangun tampilan peta sesuai kebutuhan. Informasi yang sebelumnya perlu dilihat dari beberapa jenis data dapat dieksplorasi dalam satu tampilan spasial.
Pemetaan Jalur Pendakian dan Informasi Gunung
Setiap titik gunung dilengkapi dengan interactive popup yang menyajikan informasi seperti nama gunung, elevasi, lokasi administratif, status aktivitas, dan informasi bahaya.
Informasi atribut tersebut membuat titik pada peta tidak hanya berfungsi sebagai penanda lokasi, tetapi juga sebagai pintu masuk untuk memahami karakteristik masing-masing gunung. Jalur pendakian kemudian memberikan konteks mengenai akses menuju kawasan tersebut.
Integrasi antara titik gunung, jalur, basecamp, dan pos pendakian membentuk satu kesatuan informasi yang membantu pengguna memahami hubungan antara tujuan pendakian dan jaringan akses menuju kawasan.
Visualisasi Risiko dengan Dynamic Buffer
Dynamic Buffer memberikan cara sederhana untuk melihat perubahan cakupan area ketika radius analisis berubah. Semakin besar radius, semakin luas area yang tercakup.
Nilai tambah analisis ini muncul ketika buffer ditampilkan bersamaan dengan jalur pendakian. Pengguna dapat melihat secara visual posisi jalur terhadap area yang tercakup oleh radius analisis.
Dengan demikian, informasi risiko tidak lagi berdiri sebagai objek terpisah. Jalur pendakian dapat dibaca bersamaan dengan area analisis sehingga hubungan spasial antara lokasi aktivitas dan jarak terhadap pusat analisis menjadi lebih mudah dipahami.
Jangkauan Perjalanan melalui Isochrone
Hasil Isochrone memperlihatkan perbedaan jangkauan antara skenario perjalanan 1 jam dan 2 jam. Secara umum, waktu yang lebih panjang menghasilkan area jangkauan yang lebih luas.
Namun, informasi yang lebih menarik bukan hanya luas area tersebut. Bentuk polygon yang mengikuti jaringan perjalanan memperlihatkan bahwa aksesibilitas tidak hanya ditentukan oleh jarak, tetapi juga oleh konektivitas jalur. Suatu lokasi yang secara geometris tidak terlalu jauh dapat memiliki jangkauan waktu yang berbeda apabila koneksi jalurnya berbeda.
Dari perspektif pendakian, informasi ini membantu memahami hubungan antara titik awal, jaringan jalur, dan waktu perjalanan. Dari perspektif mitigasi, konsep yang sama dapat menjadi gambaran awal mengenai keterjangkauan kawasan berdasarkan waktu.
Menghubungkan Risiko dan Aksesibilitas
Bagian yang menjadi nilai utama East Java Hike Master adalah ketika kedua analisis tersebut dibaca secara bersamaan.
Dynamic Buffer menjawab perspektif jarak, sedangkan Isochrone menjawab perspektif waktu.
Ketika jalur pendakian, buffer, basecamp atau pos pendakian, dan Isochrone ditampilkan dalam satu peta, pengguna dapat mengeksplorasi hubungan antara posisi suatu jalur terhadap area risiko dan keterjangkauannya dari titik awal.
Secara konseptual, alur informasinya dapat dilihat sebagai:
Gunung → Jalur Pendakian → Basecamp/Pos → Area Risiko → Jangkauan Waktu
Kombinasi tersebut memungkinkan beberapa pertanyaan spasial dijawab secara visual, misalnya:
- bagaimana posisi jalur terhadap area analisis risiko?
- titik awal mana yang menjadi referensi jangkauan perjalanan?
- seberapa jauh area dapat dijangkau dalam 1–2 jam?
- bagaimana bentuk jangkauan berubah mengikuti jaringan jalur?
- bagaimana hubungan antara aksesibilitas dan area risiko?
Dengan pendekatan ini, WebGIS tidak hanya berfungsi sebagai peta lokasi, tetapi sebagai media untuk membaca hubungan antar-objek dan hasil analisis secara spasial.
Nilai Tambah WebGIS
Dibandingkan peta statis, WebGIS memberikan fleksibilitas dalam mengeksplorasi informasi. Pengguna dapat mengganti basemap, mengaktifkan layer tertentu, memilih objek, melihat atribut melalui popup, serta mengeksplorasi hasil analisis jangkauan perjalanan.
Pendekatan ini juga memperkenalkan konsep geospasial seperti buffer, jaringan perjalanan, aksesibilitas berbasis waktu, dan visualisasi risiko dalam bentuk yang dapat diakses langsung melalui browser tanpa memerlukan perangkat lunak GIS desktop.
Di sisi lain, platform ini memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut. Integrasi data kebencanaan resmi, kondisi jalur terkini, elevasi, kemiringan lereng, titik evakuasi, cuaca, maupun status aktivitas gunung dapat membuat analisis menjadi lebih kontekstual terhadap kondisi lapangan.
Kesimpulan
East Java Hike Master menghadirkan informasi jalur pendakian dan kondisi kawasan gunung dalam satu WebGIS yang interaktif. Pemetaan 10 gunung, jalur pendakian, basecamp, dan pos pendakian dilengkapi dengan Dynamic Buffer untuk melihat area berdasarkan jarak serta Isochrone untuk melihat jangkauan perjalanan berdasarkan waktu. Keduanya memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai hubungan antara risiko dan aksesibilitas di kawasan pendakian. Selain itu, adanya fitur laporan kondisi lapangan memungkinkan pengguna memberikan informasi mengenai perubahan jalur, hambatan, atau kondisi lain yang dapat menjadi masukan untuk pembaruan informasi dan analisis selanjutnya. Hasil WebGIS ini tetap perlu dipahami sebagai pendekatan informasi dan analisis spasial, sehingga informasi resmi dari pihak berwenang dan kondisi lapangan tetap menjadi acuan utama dalam pengambilan keputusan terkait keselamatan.
Daftar Pustaka
Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia. (2022). Peta Kawasan Rawan Bencana Gunung Api Semeru. Badan Geologi.
MapLibre. MapLibre GL JS Documentation. https://maplibre.org/maplibre-gl-js/docs/
OpenRouteService. OpenRouteService API Documentation. HeiGIT. https://openrouteservice.org/dev/
OpenStreetMap Foundation. OpenStreetMap. https://www.openstreetmap.org/
Turf.js. Turf.js Documentation. https://turfjs.org/docs/