Peta Risiko Bencana Gempa Bumi Kawasan Wisata di Sekitar Sesar Lembang

05 February 2023

By: Nisa Nurlatifa Rahmah

Open Project

PETA RISIKO BENCANA GEMPA BUMI PADA KAWASAN WISATA DI SEKITAR SESAR LEMBANG

Peta Risiko Bencana Gempa Bumi Kawasan Wisata di Sekitar
Sesar Lembang

PETA RISIKO BENCANA GEMPA BUMI PADA KAWASAN WISATA DI WILAYAH SESAR LEMBANG

Perbedaan Pengertian Bahaya, Kerawanan, dan Risiko Bencana (https://disaster.geo.ugm.ac.id/index.php/berita/istilah-manajemen-bencana)

  • Bahaya (hazard) merupakan peristiwa atau kondisi fisik yang berpotensi menyebabkan kerusakan pada manusia seperti luka-luka, kerusakan properti dan infrastruktur, kerusakan lingkungan, gangguan terhadap kegiatan ekonomi atau segala kerugian dan kehilangan yang dapat terjadi (FEMA, 1997).
  • Kerawanan (susceptibility) merupakan kondisi atau karakteristik geologis, biologis, hidrologis, geografis, sosial budaya, politik, ekonomi, dan teknologi pada suatu wilayah untuk jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan mencegah, meredam, mencapiai kesiapan, dan mengurangi kemampuan untuk untuk menanggapi dampak buruk bahaya tertntu (Anonim, 2007).
  • Risiko (risk) merupakan suatu peluang dari timbulnya akibat buruk atau kemungkinan kerugian dalam hal kematian, luka-luka kehilangan dan kerusakan lingungan yang ditimbulkan ileh interaksi antara ancaman bencana dan erentanan (ISDR, 2004).

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang berada di jalur Cincin Api Pasifik atau Sabuk Gempa Pasifik. Penempatan Indonesia ini menjadikannya sebagai negara dengan pertemuan tiga lempeng benua, yaitu: lempeng Indo-Australia di bagian selatan, lempeng Eurasia di bagian utara, dan lempeng Pasifik di bagian Timur. Pertemuan tiga lempeng benua menjadikan Indonesia sebagai negara rawan bencana. Salah satu bencana yang sering terjadi adalah gempabumi. Gempabumi merupakan peristiwa geologi yang umumnya terjadi akibat aktivitas tektonik, apabila terdapat gerakan batuan pada kerak bumi. Gerak batuan menyebabkan gesekan dengan mengalirkan gelombang getaran yang disebarkan melalui batuan (Ahmad dkk., 2013; Amri, 2016; Razi, 2010; Sudarsana dkk., 2013).

Gempabumi mendatangkan masalah serius karena guncangan gempanya mampu meruntuhkan bangunan yang ada di sekitar dengan tingkatan kerusakan yang berbeda. Gempabumi di Indonesia seringkali diakibatkan oleh aktivitas sesar aktif. Salah satu sesar aktif yang terdapat di Jawa Barat adalah Sesar Lembang. Sesar Lembang merupakan sesar di utara Kota Bandung. Sesar ini terletak sekitar 10 km di utara Kota Bandung, dan memanjang dari arah timur ke barat dengan panjang Sesar Lembang adalah 29 km. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh sesar ini terbagi menjadi 6 bagian, yaitu: Cimeta, Cipogor, Cihideng, Gunung Batu, Cikapundung, dan Batu Lonceng. Sesar ini terbagi menjadi dua segmen yaitu segmen barat dan segmen timur. Kedua segmen tersebut bertemu di wilayah bagian tengah tepatnya di perbukitan sekitar Gunung Batu hingga Boscha. Kedua segmen ini tidak tepat segaris, tetapi membentuk offset sekitar 200 – 300 meter (Daryono dkk., 2019; Daryono, 2016; Rasmid, 2014).

Sesar Lembang perlu mendapatkan perhatian khusus terkait adanya potensi gempabumi yang mengintai. Gempabumi merupakan salah satu bencana serius terutama untuk wilayah perkotaan maupun kawasan wisata, dimana terdapat konsentrasi populasi manusia dan aset yang ada. Analisis dan manajemen resiko perlu digunakan dalam menganalisis dampak bencana dan untuk mengurangi kerugian. Menurut Peraturan Kepala BNPB No. 4 Tahun 2008 tentang Penyusunan Rencana Bencana, mitigasi bencana digolongkan menjadi 2 jenis mitigasi, yakni: mitigasi aktif dan mitigasi pasif. Mitigasi bencana terbagi menjadi dua, mitigasi bencana fisik dan mitigasi bencana non-fisik. Mitigasi bencana struktural merupakan mitigasi bencana yang dilakukan secara fisik, sedangkan mitigasi bencana non-struktural merupakan mitigasi bencana non-fisik (BNPB, 2008; PUPR, 2017; Triana dkk., 2018; Triatmadja, 2010; Zhao dkk., 2017).

Dalam melakukan mitigasi bencana di kawasan wisata tidak hanya fokus pada mitigasi struktural, tetapi perlu menguatkan upaya mitigasi non-struktural untuk meningkatkan kesadaran wisatawan pengunjung kawasan wisata. Salah satu upaya mitigasi yang dapat dilakukan adalah pemetaan jalur evakuasi bencana gempabumi. Pemetaan jalur evakuasi ini dapat termasuk ke dalam kategori mitigasi aktif dan mitigasi non-struktural, karena merencanakan jalur-jalur evakuasi dan tempat evakuasi sementara (BNPB, 2008; PUPR, 2017; Triatmadja, 2010; Triana dkk., 2018).

1.2 Permasalahan dan Tujuan Penelitian

Adanya potensi bencana gempa bumi menjadikan kawasan sekitar Sesar Lembang memiliki pemandangan dan potensi wisata yang sangat tinggi. Tetapi banyak sekali investor dan pengunjung tempat wisata belum memahami risiko bencana yang terjadi pada wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan sebagai upaya mitigasi bencana gempa bumi yang disebabkan oleh aktivitas sesar lembang. Selain itu, harapan dari penelitian ini adalah agar para investor yang akan membangun tempat wisata dapat memperhatikan indeks risiko kebencanaan gempa bumi dan keselamatan pengunjung tempat wisata saat berwisata di tempat wisata pada kawasan Sesar Lembang. Kemudian, pengunjung perlu diberikan edukasi risiko kebencanaan saat mengunjungi tempat tersebut. Sehingga tidak terjadi kepanikan dan meminimalisir korban jiwa saat peristiwa gempa bumi terjadi.

2. Metode Penelitian

2.1 Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di kawasan yang memiliki potensi terdampak bencana gempa bumi akibat aktivitas Sesar Lembang, yakni Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Sumedang, dan Kabupaten Purwakarta.

2.2 Metode

A. Peta Bahaya Gempa Bumi

  • Alur pembuatan peta bahaya gempa bumi
Peta Risiko Bencana Gempa Bumi Kawasan Wisata di Sekitar
Sesar Lembang
  • Pengkelasan Nilai Intensitas Guncangan di Permukaan (JICA, 2015)
Peta Risiko Bencana Gempa Bumi Kawasan Wisata di Sekitar
Sesar Lembang

B. Peta Risiko Gempa Bumi (BNPB)

Penentuan indeks risiko bencana dilakukan dengan menggabungkan nilai indeks bahaya, kerentanan, dan kapasitas. Proses ini dilakukan dengan menggunakan kalkulasi secara spasial sehingga dapat menghasilkan peta risiko dan nilai grid yang dapat dipergunakan dalam menyusun penjelasan peta risiko. Untuk perhitungan tingkat Provinsi, keseluruhan proses dilakukan dengan mengikuti kaidah kartografi yaitu dengan analisis minimal menggunakan input data yang tersedia pada skala 1 : 250.000. Hasil yang dihasilkan juga akan mengikuti skala analisis yang digunakan. Ketentuan ini juga mengacu pada pedoman umum pengkajian risiko bencana yang telah ditetapkan oleh BNPB pada tahun 2012. (BNPB, 2016)

  • Konsep Perhitungan Risiko

Peta Risiko Bencana Gempa Bumi Kawasan Wisata di Sekitar
Sesar Lembang

3. Hasil dan Pembahasan

  • Peta Jalur Sesar Aktif Wilayah Sesar Lembang
Peta Risiko Bencana Gempa Bumi Kawasan Wisata di Sekitar
Sesar Lembang

Berdasarkan hasil interpretasi citra dapat terlihat adanya bentuk punggungan dari wilayah barat hingga ke timur. Wilayah perbukitan di wilayah ini, sangat jelas memperlihatkan adanya gawir sesar yang merupakan Sesar Lembang. Berdasarkan kontur, dapat dilihat kontur rapat hingga sedang. Kemudian, pada wilayah bagian utara memiliki morfologi pedatran dan selatan adalah perbukitan.

Berdasarkan data Jalur Sesar Lembang yang dimuat berdasarkan penelitian dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Dr. Mudrik Rahmawan Daryono dan Dr. Danny Hilman Natawidjaja. Bahwa, Sesar Lembang merupakan salah satu sesar aktif yang berada di selatan Gunung Tangkuban Perahu. Hasil penelitian beliau menunjukan bahwa Sesar Lembang memiliki laju pergeseran sepanjang 1,95 milimeter sampai 3,45 milimeter setiap tahunnya.

Berdasarkan penelitian, panjang Sesar Lembang memiliki panjang hingga 29 kilometer dan membaginya menjadi 6 bagian, yakni bagian Cimeta di Padalarang, Cipogor di Lembang, Cihideung di Parongpong, Gunung Batu di Lembang, Cikapundung di Lembang, dan Batu Lonceng di Lembang. Sesar Lembang merupakan salah satu sumber gempa potensial yang terletak di tengah Provinsi Jawa Barat, hanya sekitar 10 km di utara ibukota Jawa Barat, Bandung, sebuah kota yang dihuni oleh 8,6 juta orang.

  • Peta Bahaya Gempa Bumi Sesar Lembang Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Bandung
Peta Risiko Bencana Gempa Bumi Kawasan Wisata di Sekitar
Sesar Lembang

(Sumber : Hasil Analisis Nisa Nurlatifa Rahmah, 2022)

Tingkat bahaya bencana gempabumi menunjukan bahwa zonasi tingkat bahaya bencana gempabumi di Sesar Lembang terbagi menjadi 3 kelas, yakni: rendah, sedang, dan tinggi. Tingkat rendah ditandai dengan simbologi warna hijau tua, tingkat sedang warna kuning, dan tingkat tinggi warna merah. Adapun luasan wilayah zonasi tingkat bahaya bencana gempabumi di Sesar Lembang disajikan dalam Tabel berikut:

Peta Risiko Bencana Gempa Bumi Kawasan Wisata di Sekitar
Sesar Lembang

(Sumber : Hasil Analisis Nisa Nurlatifa Rahmah, 2022)

Wilayah yang termasuk ke dalam tingkat bahaya rendah ditandai dengan simbologi berwarna hijau tua. Secara keseluruhan, wilayah yang termasuk dalam kategori ini berada pada wilayah buffering lebih dari 7 km. Wilayah administrasi bagian selatan pada Kecamatan Cimenyan, Kecamatan Cilengkrang, Kecamatan Parongpong, Kecamatan Ngamprah, Kecmatan Cisarua, dan Kecamatan Padalarang termasuk ke dalam tingkat bahaya rendah ini. Bagian utara Kecamatan Lembang dan Kecamatan Parongpong termasuk ke dalam kategori tingkat bahaya ini.

Wilayah yang termasuk ke dalam tingkat bahaya sedang ditandai dengan simbologi berwarna kuning. Adapun wilayah yang masuk ke dalam kategori tingkat bahaya sedang memiliki jarak yang tidak terlalu jauh dengan Sesar Lembang karena wilayah ini berada pada wilayah buffering lebih dari 3 km.

Wilayah dengan kelas kerawanan rawan memiliki luasan yang hampir merata di seluruh wilayah, karena analisis dan letaknya mengikuti garis Sesar Lembang. Adapun wilayah yang termasuk ke dalam tingkat bahaya sedang adalah Kecamatan Padalarang, Kecamatan Ngamprah, Kecamatan Cisarua, Kecamatan Parongpong, Kecamatan Lembang, Kecamatan Cimenyan, dan Kecamatan Cilengkrang.

Wilayah yang termasuk ke dalam tingkat bahaya tinggi ditandai dengan simbologi berwarna merah. Adapun wilayah yang termasuk ke dalam tingkat bahaya tinggi memiliki jarak yang sangat dekat dengan Sesar Lembang karena wilayah ini berada pada wilayah buffering kurang dari 1 km. Wilayah dengan tingkat bahaya tinggi memiliki luasan yang hampir merata di seluruh wilayah dan mengikuti pola garis Sesar Lembang. Adapun wilayah yang termasuk ke dalam tingkat bahaya tinggi adalah Kecamatan Padalarang, Kecamatan Ngamprah, Kecamatan Cisarua, Kecamatan Parongpong, Kecamatan Lembang, Kecamatan Cimenyan, dan Kecamatan Cilengkrang. 

  • Peta Kerawanan Bencana Gempabumi Sesar Lembang Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Bandung
Peta Risiko Bencana Gempa Bumi Kawasan Wisata di Sekitar
Sesar Lembang

(Sumber : Hasil Analisis Nisa Nurlatifa Rahmah, 2022)

Kerawanan dengan menggunakan metode overlaymenunjukan bahwa zonasi kerawanan bencana gempabumi di Sesar Lembang terbagi menjadi 3 kelas, yakni: tidak rawan, rawan, dan sangat rawan. Kelas tidak rawan ditandai dengan simbologi warna hijau tua, kelas rawan warna kuning, dan kelas sangat rawan warna merah. Adapun luasan wilayah zonasi kerawanan gempabumi di Sesar Lembang disajikan dalam Tabel berikut:

Peta Risiko Bencana Gempa Bumi Kawasan Wisata di Sekitar
Sesar Lembang

(Sumber : Hasil Analisis Nisa Nurlatifa Rahmah, 2022)

Wilayah yang termasuk ke dalam kelas kerawanan tidak rawan ditandai dengan simbologi berwarna hijau tua. Secara keseluruhan, wilayah yang termasuk dalam kategori ini berada pada wilayah buffering lebih dari 7 km. Wilayah administrasi bagian selatan pada Kecamatan Cimenyan, Kecamatan Cilengkrang, Kecamatan Parongpong, Kecamatan Ngamprah, dan Kecamatan Padalarang termasuk ke dalam kelas kerawanan ini. Bagian utara Kecamatan Lembang dan Kecamatan Parongpong termasuk ke dalam kategori kelas kerawanan ini.

Adapun wilayah yang termasuk ke dalam kelas kerawanan rawan adalah Kecamatan Padalarang, Kecamatan Ngamprah, Kecamatan Cisarua, Kecamatan Parongpong, Kecamatan Lembang, Kecamatan Cimenyan, dan Kecamatan Cilengkrang.

Wilayah yang termasuk ke dalam kelas kerawanan sangat rawan ditandai dengan simbologi berwarna merah. Adapun wilayah yang termasuk ke dalam kategori sangat rawan memiliki jarak yang sangat dekat dengan Sesar Lembang karena wilayah ini berada pada wilayah buffering kurang dari 1 km.

Wilayah dengan kelas kerawanan sangat rawan memiliki luasan yang hampir merata di seluruh wilayah dan mengikuti pola garis Sesar Lembang. Adapun wilayah yang termasuk ke dalam kelas kerawanan sangat rawan adalah Kecamatan Padalarang, Kecamatan Ngamprah, Kecamatan Cisarua, Kecamatan Parongpong, Kecamatan Lembang, Kecamatan Cimenyan, dan Kecamatan Cilengkrang.

  • Peta Risiko Bencana Gempa Bumi Kawasan Wisata di Sekitar Sesar Lembang (BNPB)
Peta Risiko Bencana Gempa Bumi Kawasan Wisata di Sekitar
Sesar Lembang

Pengolahan data Indeks Risiko Bencana Gempa Bumi yang telah dipublikasi oleh BNPB menghasilkan 3 Kelas, yakni rendah, sedang dan tinggi. Daerah dengan risiko rendah antara lain, sebagian Kabupaten Purwakarta dan sebagian Kabupaten Subang. Kemudian, daerah dengan risiko sedang antara lain, Kabupaten Bandung, Kabupaten Subang, Kabupaten Purwakarta, dan sebagian Kabupaten Sumedang. Sedangkan untuk kelas tinggi, dimulai dari Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, sedikit bagian Kabupaten Sumedang, Kabupaten Subang dan Kabupaten Purwakarta.

Berdasarkan hasil dari Indeks Risiko Bencana Gempa Bumi dapat dilihat bahwa kawasan wisata di sekitar Sesar Lembang cukup banyak dan di dominasi dalam kelas Indeks Risiko Tinggi. Maka dari itu, hal ini perlu menjadi perhatian bagi pihak pemilik tempat wisata juga pengunjung tempat wisata. Data-data yang di publikasi di website geo.mapid.io dapat menjadi referensi bagi pengelola tempat wisata yang akan mendirikan tempat wisata baru, agar lebih memperhatikan bahaya kegempaan di wilayah Sesar Lembang.

(Tulisan lengkap dapat diakses melalui Repository Universitas Pendidikan Indonesia)

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrohman, A. (2020). Analisis Tingkat Risiko Bencana Gempabumi di Kabupaten Pacitan Provinsi Jawa Timur. (Skripsi, Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2020). NASPUB ABDUR-2.pdf (ums.ac.id)

Akbar, M dkk. (2020). Analisis Usaha Pariwisata Dalam Menghadapi Risiko Bencana Alam di Kecamatan Lembang. Journal Of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation. Vol. 3 (2). 184.

Daryono, Mudrik R., Natawidjaja, D. H., Sapiie, B., & Cummins, P. (2019). Earthquake Geology of the Lembang Fault, West Java, Indonesia. Tectonophysics, 751. 180–191. https://doi.org/10.1016/j.tecto.2018.12.014

Daryono, M. R. (2016). Paleoseismologi Tropis Indonesia (dengan Studi Kasus di Sesar Sumatra, Sesar Palukoro-Matano, dan Sesar Lembang). (Disertasi). Studi Doktor Sain, Institut Teknologi Bandung, Bandung

Muljo, Agung dkk. (2007). Sesar Lembang dan Resiko Kegempaan. Bulletin of Scientific Contribution. Vol. 5 (2). 93-96.

Setyawan, N dkk. (2012). Penyusunan Peta Risiko Bencana Gempabumi Skala Mikro Berdasarkan Kerusakan Bangunan. Jurnal Bumi Indonesia. Vol. 1 (2). 260-264.

Yulianti, Gita dkk. (2016). Risiko Bencana Indonesia. Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana Indonesia.

Data Publications

Rekomendasi Lokasi Optimal Pengembangan Kawasan Permukiman dengan Metode Multi-Criteria Scoring di Kawasan BSD Barat, Kabupaten Tangerang

Real Estate

04 Sep 2026

Asti Ardiningrum

Rekomendasi Lokasi Optimal Pengembangan Kawasan Permukiman dengan Metode Multi-Criteria Scoring di Kawasan BSD Barat, Kabupaten Tangerang

Penelitian dengan analisis spasial multi-kriteria pada kawasan BSD Baru mengidentifikasi bahwa wilayah selatan (sebagian Jatake, Situ Gadung, dan Sampora) merupakan lokasi paling optimal (Sangat Sesuai) untuk kawasan permukiman karena didukung akses langsung Tol Serpong–Balaraja dan stasiun KRL. Temuan yang selaras dengan RTRW 2021–2031 dan Masterplan BSD City ini menempatkan wilayah selatan sebagai prioritas utama pembangunan bagi pengembang sekaligus opsi hunian dan investasi terbaik bagi masyarakat.

14 min read

96 view

1 Projects

Analisis Spasial Kesesuaian dan Ketersediaan Lahan untuk Ekspansi Perumahan di Kawasan Sleman Barat, Timur, dan Tengah

City Planning

04 Sep 2026

Chanaya Berlin

Analisis Spasial Kesesuaian dan Ketersediaan Lahan untuk Ekspansi Perumahan di Kawasan Sleman Barat, Timur, dan Tengah

Perkembangan kawasan perkotaan di Kabupaten Sleman meningkatkan kebutuhan lahan untuk pembangunan perumahan. Namun, tidak seluruh wilayah memiliki karakteristik yang sesuai dan dapat dikembangkan karena dipengaruhi oleh kondisi fisik, aksesibilitas, serta faktor pembatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis kesesuaian dan ketersediaan lahan untuk pembangunan perumahan di Kawasan Sleman Barat, Sleman Tengah, dan Sleman Timur. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan Spatial Multi-Criteria Analysis melalui Euclidean Distance, Fuzzy Membership, dan Weighted Sum. Faktor yang digunakan meliputi kemiringan lereng, aksesibilitas terhadap jalan utama, rumah sakit, puskesmas, pasar, dan sekolah. Setiap faktor distandardisasi ke dalam rentang 0–1 menggunakan Fuzzy Membership dan dikombinasikan berdasarkan bobot melalui Weighted Linear Combination. Hasil kesesuaian kemudian dikombinasikan dengan constraint berdasarkan penggunaan lahan, ketentuan tata ruang, dan batasan fisik untuk mengidentifikasi lahan yang berpotensi tersedia untuk pembangunan perumahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesesuaian lahan bervariasi antarwilayah. Kawasan Sleman Tengah memiliki luasan lahan dengan tingkat kesesuaian sangat sesuai paling besar, sedangkan kategori cukup sesuai hingga tidak sesuai lebih banyak ditemukan di Kawasan Sleman Timur. Setelah penerapan constraint, luas lahan tersedia lebih kecil dibandingkan lahan yang sesuai. Potensi lahan tersedia terbesar terdapat di Kawasan Sleman Tengah sebesar 5.975,34 ha, diikuti Sleman Barat sebesar 2.041,48 ha dan Sleman Timur sebesar 1.409,45 ha.

17 min read

62 view

1 Projects

East Java Hike Master: WebGIS Interaktif untuk Pemetaan Jalur Pendakian dan Analisis Mitigasi Kawasan Gunung di Jawa Timur

Environment

04 Sep 2026

Linda Ambala Tifa Ramadhani

East Java Hike Master: WebGIS Interaktif untuk Pemetaan Jalur Pendakian dan Analisis Mitigasi Kawasan Gunung di Jawa Timur

East Java Hike Master merupakan WebGIS interaktif yang menggabungkan informasi jalur pendakian, lokasi pendukung, serta analisis spasial kawasan gunung di Jawa Timur dalam satu platform. WebGIS ini memetakan 10 gunung beserta jalur pendakian, basecamp, dan pos pendakian, kemudian mengintegrasikan analisis Dynamic Buffer dan Isochrone untuk memberikan perspektif mengenai area risiko dan jangkauan perjalanan. Dengan memanfaatkan MAPID Satellite Map sebagai basemap utama, serta Topographic Map dan OpenStreetMap sebagai alternatif, pengguna dapat mengeksplorasi informasi kawasan secara interaktif. Proyek ini dikembangkan sebagai media eksplorasi spasial dan edukasi yang memperlihatkan bagaimana teknologi WebGIS dapat digunakan untuk menghubungkan informasi pendakian dengan konsep mitigasi bencana.

16 min read

179 view

1 Projects

Strategi Ekspansi Pusat Furnitur di Kawasan Indonesia Timur: Pendekatan Location Intelligence

Retail

04 Sep 2026

Muhammad Azka Ayubi

Strategi Ekspansi Pusat Furnitur di Kawasan Indonesia Timur: Pendekatan Location Intelligence

Artikel ini menganalisis penentuan lokasi optimal untuk ekspansi pusat ritel furnitur di kawasan Indonesia Timur (Makassar, Manado, Balikpapan) menggunakan pendekatan Location Intelligence. Melalui pengujian matriks Inbound (Network Routing) dan Outbound (Isochrone) logistik pada platform GEO MAPID, Kota Balikpapan terpilih sebagai lokasi paling strategis yang berhasil menyeimbangkan penetrasi pasar dengan efisiensi biaya rantai pasok.

20 min read

71 view

1 Projects

Terms and Conditions
Introductions
  • MAPID is a platform that provides Geographic Information System (GIS) services for managing, visualizing, and analyzing geospatial data.
  • This platform is owned and operated by PT Multi Areal Planing Indonesia, located at