Tantangan Pengelolaan Sampah di Palembang dan Peran Teknologi WebGIS dalam Solusinya

25 August 2026

By: Supriyadi

Open Project

EcoMap-Palembang

  1. 1.
    PENDAHULUAN

Kota Palembang, ibu kota Provinsi Sumatera Selatan, menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah. Berdasarkan Kota Palembang Dalam Angka 2026 (BPS, 2026), jumlah penduduk kota ini telah mencapai sekitar 1,74 juta jiwa yang tersebar di 18 kecamatan. Dengan asumsi setiap orang menghasilkan 0,7 kg sampah per hari (SNI 19-3983-1995), Palembang berpotensi menghasilkan lebih dari 1.200 ton sampah setiap harinya. Jumlah yang sangat besar ini membutuhkan fasilitas pengelolaan yang memadai dan tersebar merata di seluruh penjuru kota.

Masalah yang ada saat ini adalah fasilitas pengelolaan sampah seperti Bank Sampah, TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle), Rumah Kompos dan Biodigester—belum tersebar secara merata. Selain itu, informasi tentang lokasi fasilitas-fasilitas tersebut masih sulit diakses oleh masyarakat umum. Akibatnya, banyak warga yang tidak tahu di mana harus membuang atau mendaur ulang sampah mereka dan pemerintah pun kesulitan mengidentifikasi wilayah mana saja yang masih kekurangan fasilitas.

Untuk menjawab permasalahan tersebut, proyek ini mengembangkan EcoMap-Palembang (https://ecomap-palembang.vercel.app/), sebuah platform peta interaktif berbasis web (WebGIS) yang dapat diakses siapa saja melalui browser. Platform ini bertujuan menampilkan sebaran seluruh fasilitas pengelolaan sampah secara visual dan interaktif, menganalisis seberapa jauh jangkauan layanan fasilitas yang ada, mengidentifikasi area yang belum terlayani, serta membantu pengguna menemukan fasilitas terdekat dari lokasi mereka.

TUJUAN DAN MANFAAT

2.1 Tujuan

Pengembangan EcoMap-Palembang memiliki empat tujuan utama:

  • Memetakan dan menampilkan secara visual seluruh fasilitas pengelolaan sampah di Kota Palembang (8 kategori fasilitas) dalam satu platform peta interaktif yang mudah diakses.
  • Menganalisis seberapa luas jangkauan layanan fasilitas yang sudah ada menggunakan metode isokron yaitu peta area yang dapat dicapai dalam waktu tertentu melalui jalan nyata sehingga terlihat mana saja wilayah yang sudah dan belum terlayani.
  • Mengidentifikasi area permukiman yang belum terjangkau fasilitas dan memberikan rekomendasi otomatis tentang lokasi dan jumlah fasilitas baru yang dibutuhkan.
  • Menyediakan fitur navigasi rute ke fasilitas pengelolaan sampah terdekat, sehingga masyarakat dapat dengan mudah mengetahui cara menuju fasilitas tersebut dari lokasi mereka.

2.2 Manfaat

Platform EcoMap-Palembang diharapkan memberikan manfaat bagi berbagai pihak:

  • Bagi Pemerintah Kota Palembang (Dinas Lingkungan Hidup): menyediakan gambaran spasial yang jelas tentang kondisi persebaran fasilitas dan kesenjangan layanan, sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam perencanaan pembangunan fasilitas baru.
  • Bagi Masyarakat Umum: memudahkan pencarian lokasi bank sampah, TPS3R, atau fasilitas daur ulang terdekat dari rumah mereka, sekaligus menyediakan informasi tentang jenis dan status operasional setiap fasilitas.
  • Bagi Akademisi dan Peneliti: menyediakan platform analisis spasial persampahan berbasis data terbuka (open data) yang dapat direplikasi dan dikembangkan untuk kota-kota lain di Indonesia.
  • Bagi Pengembang WebGIS: menjadi contoh implementasi nyata penggunaan pustaka open-source (Leaflet.js, Turf.js) untuk membangun aplikasi peta analitik yang fungsional tanpa biaya lisensi perangkat lunak.

METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi Penelitian

Wilayah penelitian adalah seluruh Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, yang terbagi menjadi 18 kecamatan dengan luas sekitar 400 km². Kota ini dilalui Sungai Musi yang membaginya menjadi dua bagian: Seberang Ilir di utara dan Seberang Ulu di selatan. Sebaran permukiman yang beragam dari kawasan padat di pusat kota hingga area yang masih berkembang di pinggiran menjadikan Palembang sebagai lokasi yang tepat untuk menganalisis kesenjangan layanan fasilitas pengelolaan sampah.

3.2 Variabel Penelitian

Data yang digunakan mencakup data spasial dan data statistik dari berbagai sumber terbuka (open data) yang dapat diakses secara gratis.

Tabel 1. Variabel dan Sumber Data Penelitian

Sumber: Analisis Tahun 2025

3.3 Metode Pengembangan

Pengembangan EcoMap-Palembang dilakukan melalui enam tahap seperti yang ditunjukkan pada diagram alir di bawah ini.

3.3.1 Arsitektur dan Teknologi Platform

EcoMap-Palembang dibangun menggunakan teknologi berbasis web yang semuanya bersifat open-source (gratis dan terbuka). Berikut adalah alat utama yang digunakan:

  • Leaflet.js v1.9.4 – pustaka JavaScript untuk menampilkan peta interaktif di browser
  • Turf.js v6 – pustaka untuk melakukan perhitungan geografis langsung di browser pengguna (seperti menghitung luas area, irisan polygon dan jarak antar titik)
  • Leaflet.markercluster v1.4.1 – plugin untuk mengelompokkan ikon fasilitas yang berdekatan agar peta tidak penuh sesak
  • TailwindCSS – kerangka desain web untuk tampilan yang rapi dan responsif di berbagai ukuran layar
  • Node.js + Express.js – server sederhana untuk menyimpan kunci API secara aman
  • MAPID Routing API – layanan analisis isokron berbasis data jalan Indonesia (sebagai layanan utama)
  • OpenRouteService (ORS) API – layanan isokron cadangan jika MAPID tidak merespons
  • Vercel – platform hosting gratis untuk mempublikasikan aplikasi web

3.3.2 Pengolahan Data Spasial

Data yang bersumber dari SIPSN KLHK, INA-Geoportal diunduh dan diproses ke format GeoJSON. Preprocessing meliputi pembersihan atribut duplikat, standardisasi nama kecamatan, penambahan field status operasional dan identifier unik (id) untuk setiap fitur, serta verifikasi koordinat geografis dalam sistem referensi WGS84. Data batas administrasi kecamatan menggunakan Peta RBI BIG pada skala 1:50.000 diproses juga ke format GeoJSON, sementara data area permukiman menggunakan Google Open Buildings V3 yang diolah dengan geoprocessing buffer berjarak 3 meter (morphological closing) untuk mengagregasi poligon bangunan individu menjadi blok area permukiman yang berkesinambungan, dengan tetap mempertahankan jalan utama sebagai batas pemisah.

Estimasi timbulan sampah dihitung per kecamatan menggunakan rumus: Timbulan Harian (kg) = Jumlah Penduduk × 0,7 kg/kapita/hari, sesuai SNI 19-3983-1995 tentang Spesifikasi Timbulan Sampah untuk Kota Kecil dan Kota Sedang di Indonesia.

Salah satu fitur utama EcoMap-Palembang adalah analisis keterjangakauan layanan fasilitas pengelolaan sampah dan penentuan rekomendasi fasilitas baru untuk mencover area yang belum terlayani dengan baik. Analisis spasialnya menggunakan pendekatan isochrone-based service area analysis. Berbeda dengan analisis buffer Euclidean yang mengabaikan hambatan fisik, isokron mempertimbangkan jaringan jalan sehingga menghasilkan zona layanan yang lebih realistis. Parameter jarak layanan yang digunakan untuk setiap jenis fasilitas ditampilkan pada Tabel 2.

Tabel 2. Parameter Jarak Layanan untuk Analisis Isokron per Jenis Fasilitas

Sumber: Kode sumber EcoMap-Palembang, 2025

Alur analisis dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama (Existing Coverage Analysis) adalah pengambilan poligon isokron dari setiap fasilitas eksisting melalui MAPID Routing API (dengan fallback ke ORS). Poligon isokron kemudian digunakan untuk operasi irisan (intersection) dengan layer permukiman, mengidentifikasi zona terlayani (served area, warna hijau) dan zona belum terlayani (underserved area, warna merah) menggunakan fungsi turf.intersect() dan turf.difference(). Tahap kedua (New Facility Placement) adalah penghitungan kebutuhan fasilitas baru berdasarkan proporsi area permukiman yang belum terlayani, diikuti rekomendasi koordinat menggunakan algoritma penempatan berbasis jarak minimum antar fasilitas (minimum distance constraint placement).

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Antarmuka dan Desain Sistem EcoMap-Palembang

EcoMap Palembang telah berhasil dikembangkan dan dapat diakses secara publik melalui https://ecomap-palembang.vercel.app/. Antarmuka utama dirancang dengan tiga komponen: (1) navigation bar dengan identitas aplikasi dan menu modal (Feedback, Sumber Data, Tentang Kami); (2) panel kontrol di sisi kiri dengan lebar 320px yang dapat disembunyikan di perangkat mobile; serta (3) area peta interaktif yang menempati ruang layar utama. Pengguna dapat memilih dari empat pilihan basemap: Google Satellite, Google Hybrid, Esri World Imagery dan OpenStreetMap.

Panel kontrol dibagi menjadi empat bagian: Data Dasar Kota Palembang (kontrol visibilitas batas kecamatan dan area permukiman dengan opacity slider), Data Fasilitas Pengelolaan Sampah (checkbox filter per kategori fasilitas dengan indikator jumlah data), Tambah/Ubah Data Fasilitas (CRUD operations), dan Analisis Spasial (routing dan analisis kebutuhan fasilitas per kecamatan).

4.2 Visualisasi Sebaran Fasilitas Pengelolaan Sampah

EcoMap Palembang berhasil memvisualisasikan 8 kategori fasilitas pengelolaan sampah di seluruh Kota Palembang. Setiap kategori direpresentasikan dengan marker berbentuk lingkaran berwarna unik untuk memudahkan identifikasi visual secara intuitif. Untuk menghindari peta yang terlalu penuh saat melihat seluruh kota, ikon-ikon yang berdekatan secara otomatis dikelompokkan dengan sistem marker clustering (Leaflet.markercluster) secara otomatis mengelompokkan marker yang berdekatan pada zoom level rendah dan memisahkannya saat pengguna zoom in, sehingga visualisasi tetap informatif dan tidak tumpang tindih pada berbagai skala peta. Saat pengguna memperbesar peta (zoom in), kelompok tersebut akan terbuka menampilkan masing-masing ikon individual.

Tabel 3. Kategori Fasilitas Pengelolaan Sampah dalam EcoMap-Palembang

Sumber: SIPSN KLHK, 2024; Kode sumber EcoMap Palembang, 2025

Klik pada simbol fasilitas akan menampilkan popup informasi yang memuat: nama fasilitas, kecamatan, status operasional (Beroperasi / Tidak Beroperasi), dan jenis fasilitas. Popup juga menyediakan tombol Edit dan Hapus untuk keperluan pembaruan data. Label nama fasilitas muncul otomatis sebagai tooltip permanen saat pengguna melakukan zoom pada level tertentu. Klik pada polygon kecamatan menampilkan popup statistik berisi luas wilayah, luas area permukiman, jumlah penduduk 2025 dan estimasi timbulan sampah harian.

4.3 Analisis Keterjangkauan Berbasis Isokron

Analisis keterjangkauan fasilitas merupakan fitur paling kritis EcoMap-Palembang. Pengguna dapat memilih satu kecamatan (atau seluruh Kota Palembang) dan jenis fasilitas yang ingin dianalisis (Bank Sampah, TPS3R, Rumah Kompos atau Unit Komposting), kemudian menekan tombol "Analisis". Sistem secara berurutan meminta poligon isokron dari MAPID Routing API untuk setiap fasilitas eksisting di wilayah tersebut, dengan jeda 300ms antar permintaan untuk menghindari pembatasan laju (rate limiting). Apabila MAPID Routing API tidak merespons, sistem secara otomatis beralih ke OpenRouteService sebagai fallback.

Seluruh proses geoprocessing dilakukan di sisi klien menggunakan Turf.js: irisan poligon isokron dengan layer permukiman menghasilkan "served area" (hijau), sementara operasi difference menghasilkan "underserved area" (merah). Pendekatan full client-side ini mengurangi beban komputasi server secara signifikan dan memungkinkan respons analisis yang cepat. Di panel samping kiri, muncul ringkasan berupa: jumlah fasilitas yang ada, persentase area yang sudah terlayani, perkiraan jumlah penduduk di zona belum terlayani dan rekomendasi jumlah fasilitas baru beserta lokasi penempatannya (ditandai bulatan biru di peta). Contohnya, dari analisis Bank Sampah Unit untuk seluruh Kota Palembang, terlihat bahwa dari 31 titik bank sampah yang ada, area permukiman yang sudah terlayani mencapai 96,3%, dengan rekomendasi penambahan 31 unit lagi untuk mencapai keterjangkauan yang lebih optimal di masa yang akan datang.

Panel ringkasan hasil analisis menampilkan: (a) jumlah fasilitas eksisting di wilayah terpilih; (b) persentase dan luas area permukiman yang terlayani; (c) persentase dan luas area yang belum terlayani; (d) estimasi populasi di zona belum terlayani; (e) estimasi timbulan sampah di zona tersebut per hari (kg); serta (f) jumlah dan kapasitas total fasilitas baru yang direkomendasikan. Informasi ini memberikan dasar kuantitatif yang kuat bagi pengambilan keputusan perencanaan infrastruktur persampahan.

Fitur routing interaktif memungkinkan pengguna mencari rute aktual menuju fasilitas pengelolaan sampah terdekat dari lokasi mereka. Pengguna menentukan titik asal melalui deteksi GPS otomatis atau klik pada peta, kemudian sistem mengidentifikasi fasilitas yang aktif dan terdekat menggunakan perhitungan jarak Euclidean sebagai seleksi awal. Rute jalan nyata kemudian dikalkulasi menggunakan OpenRouteService Directions API dan ditampilkan sebagai garis biru di atas peta, disertai informasi jarak tempuh (km) dan estimasi waktu perjalanan (menit).

4.5 Fitur Manajemen Data (CRUD) Partisipatif

EcoMap Palembang mengadopsi pendekatan Volunteered Geographic Information (VGI) dengan menyediakan fitur CRUD (Create (Tambah), Read (Lihat), Update (Ubah) dan Delete (Hapus)) yang memungkinkan pengguna berkontribusi dalam pembaruan data fasilitas. Pengguna dapat menambahkan fasilitas baru yang belum terdaftar di SIPSN, memperbarui informasi fasilitas eksisting, atau menghapus data yang sudah tidak relevan. Formulir penambahan data dirancang intuitif dengan pilihan kategori fasilitas, nama, jenis, kecamatan, status operasional dan koordinat (dengan opsi pilih lokasi langsung di peta).

Melalui tombol "Tambah Data Baru" di panel kontrol, pengguna dapat menambahkan fasilitas yang belum tercatat di database misalnya bank sampah baru yang baru beroperasi di lingkungan mereka. Pengguna cukup mengisi formulir yang berisi kategori, nama, kecamatan, status dan koordinat (yang bisa dipilih langsung dengan mengklik lokasi di peta). Data kontribusi yang sudah ditambahkan pengguna disimpan menggunakan localStorage browser dan dapat disinkronisasi ke backend, sehingga tetap ada meski halaman di-refresh.

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Melalui proses pengembangan EcoMap-Palembang sebagai platform WebGIS interaktif untuk pemetaan dan analisis kebutuhan fasilitas pengelolaan sampah di Kota Palembang, dapat disimpulkan:

  • EcoMap Palembang berhasil memvisualisasikan 8 kategori fasilitas pengelolaan sampah dari sumber data SIPSN KLHK secara interaktif, informatif dan mudah diakses oleh masyarakat umum tanpa memerlukan keahlian GIS.
  • Metode analisis keterjangkauan berbasis isokron yang diterapkan menghasilkan gambaran zona layanan yang lebih realistis dibandingkan buffer Euclidean, karena mempertimbangkan kondisi jaringan jalan nyata Kota Palembang melalui MAPID Routing API.
  • Fitur analisis kebutuhan fasilitas mampu mengidentifikasi area permukiman yang belum terlayani secara kuantitatif dan memberikan rekomendasi lokasi serta jumlah fasilitas baru yang dibutuhkan berdasarkan gap layanan yang teridentifikasi.
  • Implementasi geoprocessing berbasis client-side menggunakan Turf.js dapat digunakan untuk operasi spasial kompleks tanpa beban komputasi server, memungkinkan platform dioperasikan dengan infrastruktur hosting yang sederhana dan ekonomis.
  • Platform ini bersifat open-source dan open-data, sehingga dapat diadaptasi untuk kota-kota lain di Indonesia.

5.2 Saran

  • Integrasi data langsung (real-time) dari API SIPSN KLHK, sehingga data fasilitas terupdate secara otomatis tanpa intervensi manual.
  • Pengembangan sistem crowdsourcing (pengumpulan data dari masyarakat) yang lebih terstruktur dengan mekanisme validasi melibatkan komunitas lokal dan instansi terkait, agar data yang masuk lebih akurat dan terpercaya.
  • Penambahan data kapasitas dan volume pengolahan aktual setiap fasilitas (misalnya berapa kg sampah yang dapat ditampung per hari), sehingga analisis tidak hanya berdasarkan jarak pelayanan tetapi juga keseimbangan antara kebutuhan dan kemampuan fasilitas yang ada.
  • Optimalisasi tampilan (UI) dan pengalaman pengguna (UX) agar lebih ramah bagi pengguna awam, termasuk penambahan panduan penggunaan (tutorial) di dalam aplikasi, formulir input foto fasilitas dan kolom kontak pengelola fasilitas untuk memudahkan proses verifikasi data lapangan.
  • Penambahan basis data (database) menggunakan layanan seperti Supabase, Firebase atau PostgreSQL untuk menampung data yang lebih besar dan menyimpan data yang diinputkan oleh pengguna secara permanen di server mengingat saat ini ukuran file data dibatasi oleh kapasitas penyimpanan GitHub.
  • Kompresi data GeoJSON dan penerapan lazy loading (data dimuat secara bertahap sesuai kebutuhan) untuk meningkatkan kecepatan loading aplikasi, terutama pada perangkat ponsel dengan koneksi internet terbatas.

DAFTAR PUSTAKA

  1. 1.
    Badan Informasi Geospasial (BIG). (2024). Ina-Geoportal – Peta Rupabumi Indonesia (RBI) Skala 1:50.000. Diakses dari https://tanahair.indonesia.go.id/portal-web
  1. 2.
    Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Palembang. (2026). Kota Palembang Dalam Angka 2026. BPS Kota Palembang.
  1. 3.
    Google Research. (2024). Open Buildings V3 – Global Building Footprint Dataset. Diakses dari https://sites.research.google/open-buildings/
  1. 4.
    Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). (2024). Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN). Diakses dari https://sampahnasional.kemenlh.go.id/
  1. 5.
    Mulyati, D., Junaidi, A., & Wahyudi, S. (2021). Analisis Spasial Kebutuhan Bank Sampah Berbasis Sistem Informasi Geografis di Kota Bogor. Jurnal Teknologi Lingkungan, 22(1), 103–112.
  1. 6.
    Pusat Standardisasi Industri. (1995). SNI 19-3983-1995: Spesifikasi Timbulan Sampah untuk Kota Kecil dan Kota Sedang. Departemen Pekerjaan Umum.
  1. 7.
    Supriyadi. (2025). EcoMap-Palembang – Peta Interaktif Fasilitas Pengelolaan Sampah Kota Palembang [WebGIS]. Diakses dari https://ecomap-palembang.vercel.app/ | Repositori: https://github.com/Supriyadi-ID/EcoMap-Palembang
  1. 8.
    Wahyunto & Sofyan, R. (2021). Analisis Efektivitas Layanan Fasilitas Pengelolaan Sampah Menggunakan Pendekatan Isokron di Kota Bandung. Jurnal Geografi, 18(2), 78–91.

Data Publications

Analisis TOD Potensial Simpul Transportasi di Kota Yogyakarta dengan WebGIS Menggunakan Buffer 400m dan 800m

Transportation

25 Aug 2026

Nadya Fadhilah Febrianti

Analisis TOD Potensial Simpul Transportasi di Kota Yogyakarta dengan WebGIS Menggunakan Buffer 400m dan 800m

Analisis titik transport hub yang memiliki potensial pengembangan TOD di Kota Yogyakarta

3 min read

18 view

1 Projects

Analisis Spasial Sebaran Tempat Penampungan Sampah (TPS) di Kabupaten Manokwari Berbasis WebGIS

Environment

25 Aug 2026

Ester Marlina Mumu

Analisis Spasial Sebaran Tempat Penampungan Sampah (TPS) di Kabupaten Manokwari Berbasis WebGIS

WebGIS ini menganalisis sebaran Tempat Penampungan Sampah (TPS) di Kabupaten Manokwari untuk mendukung pengelolaan sampah perkotaan yang lebih efisien dan merata.

3 min read

24 view

Analisis Multikriteria dalam Penentuan Prioritas Konservasi Cagar Budaya di DKI Jakarta: Pendekatan Spasial Terintegrasi

Research

25 Aug 2026

Agung Ash

Analisis Multikriteria dalam Penentuan Prioritas Konservasi Cagar Budaya di DKI Jakarta: Pendekatan Spasial Terintegrasi

Publikasi ini menyajikan Sistem Pendukung Keputusan (DSS) spasial berbasis WebGIS yang mengintegrasikan metode Simple Additive Weighting (SAW) untuk penentuan prioritas pelestarian 133 cagar budaya di DKI Jakarta. Dengan mengevaluasi empat variabel penentu—Nilai Budaya, Aktivasi Komunitas, Kerusakan Fisik, dan Risiko Banjir—sistem ini dikembangkan sebagai instrumen perumusan panduan tata ruang (infill guideline) internal kelembagaan. Kajian ini secara kritis mendobrak bias pelestarian konvensional dengan menggeser fokus intervensi dari sekadar restorasi fisik bangunan menuju prioritas penyelamatan ruang-ruang komunal bersejarah yang mampu mengaktifkan ekosistem sosial dan komunitas lokal secara berkelanjutan.

14 min read

25 view

ORION: Pemetaan Potensi Dark Sky dan Rekomendasi Observasi Astronomi Berbasis Analisis Spasial di Jawa Barat

Tourism

25 Aug 2026

Nawal Syafiq Farihan

ORION: Pemetaan Potensi Dark Sky dan Rekomendasi Observasi Astronomi Berbasis Analisis Spasial di Jawa Barat

Publikasi ini membahas pengembangan ORION sebagai platform WebGIS untuk mengidentifikasi potensi wilayah observasi astronomi berdasarkan Night Sky Brightness (NSB), tutupan awan, dan Road Density. Tahap awal pengembangan difokuskan pada wilayah Bandung Raya sebagai pilot sebelum dikembangkan lebih luas di Jawa Barat.

17 min read

33 view

Terms and Conditions
Introductions
  • MAPID is a platform that provides Geographic Information System (GIS) services for managing, visualizing, and analyzing geospatial data.
  • This platform is owned and operated by PT Multi Areal Planing Indonesia, located at