PENDAHULUAN
Kota Palembang sebagai ibu kota Provinsi Sumatera Selatan menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah perkotaan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Palembang Dalam Angka Tahun 2026, jumlah penduduk Kota Palembang telah mencapai sekitar 1,74 juta jiwa yang tersebar di 18 kecamatan. Dengan asumsi timbulan sampah rata-rata sebesar 0,7 kg per kapita per hari (SNI 19-3983-1995), kota ini berpotensi menghasilkan lebih dari 1.218 ton sampah setiap harinya. Tekanan timbulan sampah yang besar ini membutuhkan infrastruktur pengelolaan sampah yang memadai, terencana, dan merata di seluruh penjuru kota.
Permasalahan mendasar yang dihadapi adalah ketidakmerataan distribusi fasilitas pengelolaan sampah dan minimnya informasi spasial yang dapat diakses oleh masyarakat dan pembuat kebijakan. Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) yang dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah mendokumentasikan berbagai fasilitas seperti Bank Sampah, TPS3R, TPA, Rumah Kompos, Biodigester, dan Unit Komposting, namun visualisasi dan analisis spasialnya masih terbatas. Masyarakat umum kesulitan menemukan fasilitas terdekat, sementara perencana kota kekurangan alat analitik untuk mengidentifikasi zona-zona yang belum terlayani dengan optimal.
Teknologi Sistem Informasi Geografis berbasis web (WebGIS) telah berkembang pesat dan memungkinkan penyajian data spasial secara interaktif, dapat diakses dari berbagai perangkat, dan tanpa memerlukan instalasi perangkat lunak khusus. Leaflet.js sebagai pustaka JavaScript pemetaan open-source yang ringan dan fleksibel, dikombinasikan dengan layanan isokron berbasis data jaringan jalan nyata, membuka peluang untuk membangun platform analisis spasial persampahan yang komprehensif dan mudah diakses (Mustajab et al., 2022). Penggunaan pendekatan client-side geoprocessing menggunakan Turf.js semakin memperkuat kemampuan analisis tanpa ketergantungan pada infrastruktur server yang berat.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini mengembangkan platform WebGIS interaktif bernama EcoMap Palembang (https://ecomap-palembang.vercel.app/) dengan tujuan: (1) memvisualisasikan sebaran seluruh fasilitas pengelolaan sampah di Kota Palembang secara komprehensif; (2) melakukan analisis spasial keterjangkauan fasilitas menggunakan metode isokron berbasis data jalan nyata; (3) mengidentifikasi area permukiman yang belum terlayani dan merekomendasikan lokasi fasilitas baru; serta (4) menyediakan fitur navigasi rute menuju fasilitas terdekat bagi pengguna.
METODE PENELITIAN
2.1 Lokasi Penelitian
Wilayah penelitian mencakup seluruh wilayah administratif Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan. Kota Palembang terletak pada koordinat 2°52' – 3°5' LS dan 104°37' – 104°52' BT, dengan luas wilayah keseluruhan sekitar 400 km². Kota ini dibagi menjadi 18 kecamatan, yaitu: Alang-Alang Lebar, Bukit Kecil, Gandus, Ilir Barat I, Ilir Barat II, Ilir Timur I, Ilir Timur II, Ilir Timur III, Jakabaring, Kalidoni, Kemuning, Kertapati, Plaju, Sako, Seberang Ulu I, Seberang Ulu II, Sematang Borang, dan Sukarami. Secara geografis, Palembang dilalui oleh Sungai Musi yang membagi kota menjadi dua bagian: Seberang Ilir di utara dan Seberang Ulu di selatan.
Keberagaman karakteristik fisik dan sosial di 18 kecamatan—mulai dari pusat kota yang padat seperti Kecamatan Ilir Barat I dan Ilir Timur II hingga kawasan pinggiran yang berkembang seperti Alang-Alang Lebar dan Sematang Borang—menjadikan Palembang sebagai kasus studi yang representatif untuk analisis kesenjangan layanan pengelolaan sampah di kota besar Indonesia.
2.2 Variabel Penelitian
Data yang digunakan dalam penelitian ini mencakup data spasial dan data atribut yang diperoleh dari berbagai sumber terpercaya. Tabel 1 merangkum variabel penelitian beserta sumber datanya.
Sumber: Analisis Tahun 2025
2.3 Metode Pengembangan WebGIS
Pengembangan EcoMap Palembang menggunakan pendekatan penelitian terapan (applied research) dengan tahapan: (1) pengumpulan dan preprocessing data spasial; (2) perancangan arsitektur sistem; (3) pengembangan antarmuka dan logika peta; (4) implementasi analisis spasial; (5) pengujian dan iterasi; serta (6) deployment dan publikasi. Gambar 2 menampilkan diagram alir pengembangan sistem secara keseluruhan.
2.3.1 Arsitektur dan Teknologi Platform
Platform EcoMap Palembang dibangun menggunakan teknologi front-end berbasis web yang ringan. Backend diimplementasikan menggunakan Node.js + Express.js sebagai server ringan untuk pengelolaan API key secara aman sebelum dikirimkan ke klien. Tumpukan teknologi utama yang digunakan adalah sebagai berikut:
· Leaflet.js v1.9.4: pustaka JavaScript open-source untuk rendering peta interaktif multi-layer
· Turf.js v6: pustaka geoprocessing JavaScript untuk operasi spasial sisi klien (buffer, difference, intersection, union)
· Leaflet.markercluster v1.4.1: plugin untuk pengelompokan marker fasilitas yang efisien
· TailwindCSS: framework CSS utility-first untuk antarmuka responsif di berbagai ukuran layar
· MAPID Routing API: layanan isokron berbasis data jalan nyata Indonesia (primer)
· OpenRouteService (ORS) API: layanan routing dan isokron open-source (cadangan/fallback)
· OpenStreetMap Nominatim: layanan geocoding gratis untuk pencarian alamat/lokasi
· Vercel: platform serverless deployment untuk hosting dan CDN global
2.3.2 Pengolahan Data Spasial
Data fasilitas pengelolaan sampah yang bersumber dari SIPSN KLHK diunduh dan diproses ke format GeoJSON. Preprocessing meliputi pembersihan atribut duplikat, standardisasi nama kecamatan, penambahan field status operasional dan identifier unik (_id) untuk setiap fitur, serta verifikasi koordinat geografis dalam sistem referensi WGS84. Data batas administrasi kecamatan menggunakan Peta RBI BIG pada skala 1:50.000, sementara data permukiman menggunakan Google Open Buildings V3—dataset footprint bangunan global yang dihasilkan menggunakan model kecerdasan buatan dengan akurasi tinggi.
Estimasi timbulan sampah dihitung per kecamatan menggunakan rumus: Timbulan Harian (kg) = Jumlah Penduduk × 0,7 kg/kapita/hari, sesuai SNI 19-3983-1995 tentang Spesifikasi Timbulan Sampah untuk Kota Kecil dan Kota Sedang di Indonesia.
2.3.3 Metode Analisis Isokron dan Identifikasi Gap Layanan
Analisis utama menggunakan pendekatan isochrone-based service area analysis. Berbeda dengan analisis buffer Euclidean yang mengabaikan hambatan fisik, isokron mempertimbangkan jaringan jalan nyata dan kecepatan kendaraan, menghasilkan zona layanan yang lebih realistis. Parameter waktu tempuh yang digunakan untuk setiap jenis fasilitas ditampilkan pada Tabel 2.
Sumber: Kode sumber EcoMap Palembang, 2025
Alur analisis dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama (Existing Coverage Analysis) adalah pengambilan poligon isokron dari setiap fasilitas eksisting melalui MAPID Routing API (dengan fallback ke ORS). Poligon isokron kemudian digunakan untuk operasi irisan (intersection) dengan layer permukiman, mengidentifikasi zona terlayani (served area, warna hijau) dan zona belum terlayani (unserved area, warna merah) menggunakan fungsi turf.intersect() dan turf.difference(). Tahap kedua (New Facility Placement) adalah penghitungan kebutuhan fasilitas baru berdasarkan proporsi area permukiman yang belum terlayani, diikuti rekomendasi koordinat menggunakan algoritma penempatan berbasis jarak minimum antar fasilitas (minimum distance constraint placement).
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Antarmuka dan Desain Sistem EcoMap Palembang
EcoMap Palembang telah berhasil dikembangkan dan dapat diakses secara publik melalui https://ecomap-palembang.vercel.app/. Antarmuka utama dirancang dengan tiga komponen: (1) navigation bar dengan identitas aplikasi dan menu modal (Feedback, Sumber Data, Tentang Kami); (2) panel kontrol di sisi kiri dengan lebar 320px yang dapat disembunyikan di perangkat mobile; serta (3) area peta interaktif yang menempati ruang layar utama. Pengguna dapat memilih dari empat pilihan basemap: Google Satellite, Google Hybrid, Esri World Imagery, dan OpenStreetMap.
Panel kontrol dibagi menjadi empat seksi: Data Dasar Kota Palembang (kontrol visibilitas batas kecamatan dan area permukiman dengan opacity slider), Data Fasilitas Pengelolaan Sampah (checkbox filter per kategori fasilitas dengan indikator jumlah data), Tambah/Ubah Data Fasilitas (CRUD operations), dan Analisis Spasial (routing dan analisis kebutuhan fasilitas per kecamatan).
3.2 Visualisasi Sebaran Fasilitas Pengelolaan Sampah
EcoMap Palembang berhasil memvisualisasikan 8 kategori fasilitas pengelolaan sampah di seluruh Kota Palembang. Setiap kategori direpresentasikan dengan marker berbentuk lingkaran berwarna unik dengan ikon Font Awesome yang sesuai, memudahkan identifikasi visual secara intuitif. Sistem marker clustering (Leaflet.markercluster) secara otomatis mengelompokkan marker yang berdekatan pada zoom level rendah dan memisahkannya saat pengguna zoom in, sehingga visualisasi tetap informatif dan tidak tumpang tindih pada berbagai skala peta.
Sumber: SIPSN KLHK, 2024; Kode sumber EcoMap Palembang, 2025
Klik pada marker fasilitas menampilkan popup informasi yang memuat: nama fasilitas, kecamatan, status operasional (Beroperasi / Tidak Beroperasi), dan jenis fasilitas. Popup juga menyediakan tombol Edit dan Hapus untuk keperluan pembaruan data. Label nama fasilitas muncul otomatis sebagai tooltip permanen saat pengguna melakukan zoom pada level tertentu. Klik pada polygon kecamatan menampilkan popup statistik berisi luas wilayah, luas area permukiman, jumlah penduduk 2025, dan estimasi timbulan sampah harian.
3.3 Analisis Keterjangkauan Berbasis Isokron
Analisis keterjangkauan fasilitas merupakan fitur paling kritis EcoMap Palembang. Pengguna dapat memilih satu kecamatan (atau seluruh Kota Palembang) dan jenis fasilitas yang ingin dianalisis (Bank Sampah, TPS3R, Rumah Kompos, atau Unit Komposting), kemudian menekan tombol "Analisis". Sistem secara berurutan meminta poligon isokron dari MAPID Routing API untuk setiap fasilitas eksisting di wilayah tersebut, dengan jeda 300ms antar permintaan untuk menghindari pembatasan laju (rate limiting). Apabila MAPID Routing API tidak merespons, sistem secara otomatis beralih ke OpenRouteService sebagai fallback.
Seluruh proses geoprocessing dilakukan di sisi klien menggunakan Turf.js: irisan poligon isokron dengan layer permukiman menghasilkan "served area" (ditampilkan hijau), sementara operasi difference menghasilkan "unserved area" (ditampilkan merah). Pendekatan full client-side ini mengurangi beban komputasi server secara signifikan dan memungkinkan respons analisis yang cepat. Marker rekomendasi fasilitas baru ditampilkan sebagai bintang oranye pada zona merah yang belum terlayani, ditempatkan menggunakan algoritma penempatan berbasis jarak minimum.
Panel ringkasan hasil analisis menampilkan: (a) jumlah fasilitas eksisting di wilayah terpilih; (b) persentase dan luas area permukiman yang terlayani; (c) persentase dan luas area yang belum terlayani; (d) estimasi populasi di zona belum terlayani; (e) estimasi timbulan sampah di zona tersebut per hari (kg); serta (f) jumlah dan kapasitas total fasilitas baru yang direkomendasikan. Informasi ini memberikan dasar kuantitatif yang kuat bagi pengambilan keputusan perencanaan infrastruktur persampahan.
3.4 Fitur Routing Menuju Fasilitas Terdekat
Fitur routing interaktif memungkinkan pengguna mencari rute aktual menuju fasilitas pengelolaan sampah terdekat dari lokasi mereka. Pengguna menentukan titik asal melalui deteksi GPS otomatis atau klik pada peta, kemudian sistem mengidentifikasi fasilitas yang aktif dan terdekat menggunakan perhitungan jarak Euclidean sebagai seleksi awal. Rute jalan nyata kemudian dikalkulasi menggunakan OpenRouteService Directions API dan ditampilkan sebagai garis biru di atas peta, disertai informasi jarak tempuh (km) dan estimasi waktu perjalanan (menit).
3.5 Fitur Manajemen Data (CRUD) Partisipatif
EcoMap Palembang mengadopsi pendekatan Volunteered Geographic Information (VGI) dengan menyediakan fitur CRUD yang memungkinkan pengguna berkontribusi dalam pembaruan data fasilitas. Pengguna dapat menambahkan fasilitas baru yang belum terdaftar di SIPSN, memperbarui informasi fasilitas eksisting, atau menghapus data yang sudah tidak relevan. Formulir penambahan data dirancang intuitif dengan pilihan kategori fasilitas, nama, jenis, kecamatan, status operasional, dan koordinat (dengan opsi pilih lokasi langsung di peta). Data kontribusi pengguna disimpan menggunakan localStorage browser dan dapat disinkronisasi ke backend, sehingga persistensi data terjaga antar sesi penggunaan.
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Penelitian ini telah berhasil mengembangkan EcoMap Palembang sebagai platform WebGIS interaktif untuk pemetaan dan analisis kebutuhan fasilitas pengelolaan sampah di Kota Palembang. Beberapa kesimpulan yang dapat ditarik adalah:
· EcoMap Palembang berhasil memvisualisasikan 8 kategori fasilitas pengelolaan sampah dari sumber data SIPSN KLHK secara interaktif, informatif, dan mudah diakses oleh masyarakat umum tanpa memerlukan keahlian GIS.
· Metode analisis keterjangkauan berbasis isokron yang diterapkan menghasilkan gambaran zona layanan yang lebih realistis dibandingkan buffer Euclidean, karena mempertimbangkan kondisi jaringan jalan nyata Kota Palembang melalui MAPID Routing API.
· Fitur analisis kebutuhan fasilitas mampu mengidentifikasi area permukiman yang belum terlayani secara kuantitatif dan memberikan rekomendasi lokasi serta jumlah fasilitas baru yang dibutuhkan berdasarkan gap layanan teridentifikasi.
· Implementasi geoprocessing berbasis client-side menggunakan Turf.js terbukti efektif untuk operasi spasial kompleks tanpa beban komputasi server, memungkinkan platform dioperasikan dengan infrastruktur hosting yang sederhana dan ekonomis.
· Pendekatan open-source dan open-data yang diterapkan dalam pengembangan EcoMap Palembang menjadikannya mudah direplikasi dan diadaptasi untuk kota-kota lain di Indonesia.
4.2 Saran
· Integrasi API real-time SIPSN KLHK untuk pembaruan data fasilitas secara otomatis tanpa intervensi manual.
· Penambahan fitur analisis temporal untuk memantau tren perkembangan infrastruktur persampahan dari waktu ke waktu.
· Pengembangan mekanisme crowdsourcing terstruktur dengan sistem validasi berbasis komunitas lokal dan instansi terkait.
· Kolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Palembang untuk adopsi platform sebagai alat bantu resmi perencanaan infrastruktur persampahan.
· Perluasan analisis dengan menambahkan data kapasitas dan volume pengolahan aktual setiap fasilitas untuk analisis keseimbangan supply-demand yang lebih akurat.
· Optimalisasi kinerja aplikasi pada perangkat mobile dengan kompresi data GeoJSON dan lazy loading layer untuk meningkatkan kecepatan loading di jaringan internet yang terbatas.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Informasi Geospasial (BIG). (2024). Ina-Geoportal – Peta Rupabumi Indonesia (RBI) Skala 1:50.000. Diakses dari https://tanahair.indonesia.go.id/portal-web
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Palembang. (2026). Kota Palembang Dalam Angka 2026. BPS Kota Palembang.
Goodchild, M. F. (2007). Citizens as sensors: The world of volunteered geography. GeoJournal, 69(4), 211–221. https://doi.org/10.1007/s10708-007-9111-y
Google Research. (2024). Open Buildings V3 – Global Building Footprint Dataset. Diakses dari https://sites.research.google/open-buildings/
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). (2024). Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN). Diakses dari https://sampahnasional.kemenlh.go.id/
Leaflet.js. (2024). Leaflet – an open-source JavaScript library for mobile-friendly interactive maps (v1.9.4). Diakses dari https://leafletjs.com/
MAPID. (2024). MAPID Routing API – Isochrone Service Documentation. Diakses dari https://mapid.io/
Mulyati, D., Junaidi, A., & Wahyudi, S. (2021). Analisis Spasial Kebutuhan Bank Sampah Berbasis Sistem Informasi Geografis di Kota Bogor. Jurnal Teknologi Lingkungan, 22(1), 103–112.
Mustajab, A., Widodo, P., & Setiawan, A. (2022). Pemanfaatan WebGIS untuk Pemetaan dan Analisis Aksesibilitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di Kota Surabaya. Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, 12(2), 215–226.
OpenRouteService. (2024). OpenRouteService API Documentation – Isochrones and Directions. Diakses dari https://openrouteservice.org/dev/#/api-docs
OpenStreetMap Contributors. (2024). OpenStreetMap Road Network Data – Kota Palembang. Diakses dari https://www.openstreetmap.org/
Pusat Standardisasi Industri. (1995). SNI 19-3983-1995: Spesifikasi Timbulan Sampah untuk Kota Kecil dan Kota Sedang. Departemen Pekerjaan Umum.
Supriyadi. (2025). EcoMap Palembang – Peta Interaktif Fasilitas Pengelolaan Sampah Kota Palembang [WebGIS]. Diakses dari https://ecomap-palembang.vercel.app/ | Repositori: https://github.com/Supriyadi-ID/EcoMap-Palembang
Turf.js. (2024). Turf.js – Advanced geospatial analysis for browsers and Node (v6.5.0). Diakses dari https://turfjs.org/
United Nations Environment Programme (UNEP). (2023). Global Waste Management Outlook 2024. UNEP, Nairobi.
Wahyunto & Sofyan, R. (2021). Analisis Efektivitas Layanan Fasilitas Pengelolaan Sampah Menggunakan Pendekatan Isokron di Kota Bandung. Jurnal Geografi, 18(2), 78–91.