ORION: Pemetaan Potensi Dark Sky dan Rekomendasi Observasi Astronomi Berbasis Analisis Spasial di Jawa Barat

25 August 2026

By: Nawal Syafiq Farihan

Peta Potensi Observasi Astronomi Berdasarkan ORION Score

Latar Belakang

Aktivitas observasi langit malam tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi cuaca, tetapi juga oleh kualitas lingkungan malam suatu wilayah. Salah satu faktor yang sangat menentukan adalah kecerahan langit malam (Night Sky Brightness/NSB) yang berkaitan erat dengan keberadaan dan intensitas polusi cahaya.

Pertumbuhan kawasan perkotaan, perkembangan aktivitas ekonomi, serta peningkatan penggunaan pencahayaan buatan menyebabkan kualitas langit malam di berbagai wilayah semakin beragam. Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang dalam pengembangan astrotourism, khususnya dalam menentukan lokasi yang memiliki kondisi langit malam relatif lebih baik untuk kegiatan pengamatan astronomi.

Jawa Barat memiliki variasi karakteristik wilayah yang cukup besar, mulai dari kawasan metropolitan dengan intensitas aktivitas perkotaan tinggi hingga kawasan pegunungan dan perdesaan yang memiliki tingkat perkembangan perkotaan lebih rendah. Variasi tersebut menunjukkan adanya peluang untuk mengidentifikasi lokasi-lokasi yang berpotensi mendukung aktivitas observasi langit malam.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, dikembangkan ORION (Observation & Regional Intelligence for Optimized Night-tourism) sebagai sebuah platform berbasis WebGIS yang dirancang untuk membantu mengeksplorasi kondisi langit malam dan mengidentifikasi potensi lokasi observasi astronomi secara spasial.

Berbeda dengan analisis yang hanya menghasilkan peta statis, ORION dikembangkan sebagai platform interaktif sehingga pengguna dapat mengeksplorasi informasi spasial secara langsung. Jawa Barat menjadi cakupan awal pengembangan ORION, sedangkan pada tahap pilot atau pengujian awal, analisis difokuskan pada wilayah Bandung Raya.

Bandung Raya dipilih sebagai wilayah pilot karena memiliki karakteristik spasial yang menarik untuk menguji pendekatan ORION, yaitu adanya kawasan perkotaan dengan intensitas aktivitas dan pencahayaan tinggi yang berdekatan dengan wilayah perbukitan serta kawasan dengan karakteristik lingkungan yang berbeda.

Tujuan

Pengembangan ORION memiliki beberapa tujuan utama:

  1. 1.
    Memetakan kondisi Night Sky Brightness (NSB) sebagai salah satu indikator kualitas langit malam di wilayah studi
  1. 2.
    Mengembangkan skor ORION sebagai indikator untuk membantu mengidentifikasi potensi lokasi observasi astronomi
  1. 3.
    Mengintegrasikan hasil analisis spasial ke dalam platform WebGIS interaktif
  1. 4.
    Mengembangkan kerangka analisis yang nantinya dapat diperluas untuk mencakup wilayah Jawa Barat secara lebih luas
  1. 5.
    Menyediakan dasar informasi spasial yang dapat mendukung pengembangan astrotourism dan observasi langit malam.

Wilayah Studi

Secara konseptual, ORION dirancang untuk mencakup Provinsi Jawa Barat.

Namun, dalam tahap pengembangan dan pilot testing, cakupan analisis difokuskan terlebih dahulu pada Bandung Raya.

Pendekatan bertahap ini digunakan agar sistem dapat diuji pada wilayah dengan karakteristik spasial yang cukup kompleks sebelum dikembangkan menuju cakupan yang lebih luas.

Dengan demikian, peta yang ditampilkan pada versi awal ORION bukan dimaksudkan sebagai hasil akhir untuk seluruh Jawa Barat, melainkan sebagai tahap awal pengembangan platform dan validasi pendekatan analisis.

Data dan Metode

Data yang digunakan dalam pengembangan ORION merupakan data spasial tahun 2025 yang berasal dari beberapa sumber dan diolah untuk mendukung analisis potensi lokasi observasi astronomi. Cakupan awal ORION dirancang untuk Provinsi Jawa Barat, sedangkan pada tahap pilot development, analisis difokuskan pada wilayah Bandung Raya.

Data yang digunakan dalam pengembangan ORION meliputi:

  1. 1.
    Data VIIRS Day/Night Band (DNB) Digunakan untuk memperoleh informasi intensitas cahaya malam (nighttime light) sebagai dasar estimasi Night Sky Brightness (NSB).
  1. 2.
    Data Tutupan Awan Digunakan untuk menggambarkan kondisi keterbukaan langit berdasarkan riwayat tutupan awan dan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi potensi observasi astronomi.
  1. 3.
    Data Aksesibilitas (Road Density) Digunakan untuk mempertimbangkan tingkat kemudahan suatu lokasi untuk dijangkau dari jaringan jalan utama.
  1. 4.
    Batas Administrasi Digunakan sebagai unit spasial dalam proses clipping, agregasi, zonal statistics, dan penyajian hasil analisis.
  1. 5.
    Data hasil pengolahan parameter Digunakan sebagai input dalam proses standardisasi, scoring, dan pembobotan untuk menghasilkan ORION Score.

Pengolahan data dilakukan secara bertahap mulai dari ekstraksi data spasial menggunakan Google Earth Engine (GEE), pengolahan masing-masing parameter, standardisasi nilai ke dalam skala skor, hingga penggabungan seluruh parameter menjadi ORION Score.

Tahap 1 — Pengolahan Night Sky Brightness (NSB)

Data rata-rata VIIRS DNB tahun 2025 diolah menggunakan Google Earth Engine (GEE) untuk memperoleh nilai nighttime radiance, kemudian dikonversi menjadi nilai NSB. Nilai NSB selanjutnya diklasifikasikan ke dalam skor 1–5, di mana skor yang lebih tinggi menunjukkan kondisi langit yang semakin gelap dan semakin mendukung kegiatan observasi astronomi.

Tahap 2 — Pengolahan Tutupan Awan

Data tutupan awan diolah untuk memperoleh kondisi keterbukaan langit pada wilayah analisis, kemudian distandardisasi menjadi nilai tutupan awan. Nilai tutupan awan kemudian diklasifikasikan menjadi skor 1–5, dengan skor 1 menunjukkan tutupan awan paling tinggi dan kurang mendukung observasi, sedangkan skor 5 menunjukkan tutupan awan paling rendah dan kondisi yang paling mendukung observasi astronomi.

Tahap 3 — Analisis Aksesibilitas

Data jaringan jalan tahun 2025 diolah untuk menghitung kepadatan jaringan jalan (Road Density) pada wilayah analisis. Nilai tersebut kemudian distandardisasi ke dalam skala 1–5 untuk menghasilkan Road Density Score sebagai indikator aksesibilitas. Skor 1 menunjukkan kepadatan jalan paling rendah atau aksesibilitas relatif rendah, sedangkan skor 5 menunjukkan kepadatan jalan paling tinggi atau aksesibilitas relatif baik.

Tahap 4 — Pembobotan Parameter

Ketiga parameter yang telah memiliki skor 1–5 kemudian diberikan bobot berdasarkan tingkat kepentingannya dalam menentukan potensi lokasi observasi, yaitu NSB sebesar 40%, tutupan awan sebesar 40%, dan Road Density sebesar 20%.

Tahap 5 — Perhitungan ORION Score

Nilai skor dari masing-masing parameter dikalikan dengan bobotnya dan dijumlahkan untuk menghasilkan ORION Score sebagai nilai potensi lokasi observasi astronomi.

Tahap 6 — Integrasi WebGIS

Hasil perhitungan kemudian diintegrasikan ke dalam WebGIS ORION. Pada versi pilot, NSB dan ORION Score telah ditampilkan, sementara beberapa layer parameter penyusun masih dalam tahap pengembangan visualisasi meskipun telah digunakan dalam proses perhitungan.

Pembahasan

Salah satu contoh hasil analisis ORION dapat dilihat pada Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung. Berdasarkan hasil analisis, wilayah ini memiliki ORION Score sebesar 63,00 dengan nilai NSB Score 4, Cloud Score 1, dan Access Score 2.

NSB Bandung Raya 2025

Kondisi Night Sky Brightness di Bandung Raya

Hasil pengolahan Night Sky Brightness (NSB) menunjukkan adanya variasi kondisi langit malam di wilayah Bandung Raya. Perbedaan tersebut berkaitan dengan karakteristik penggunaan lahan dan intensitas aktivitas perkotaan pada masing-masing wilayah.

Kawasan dengan tingkat urbanisasi dan aktivitas perkotaan yang lebih tinggi cenderung memiliki intensitas cahaya malam yang lebih besar. Kondisi tersebut menghasilkan kualitas langit malam yang relatif kurang mendukung untuk kegiatan observasi astronomi. Sebaliknya, wilayah yang berada lebih jauh dari pusat aktivitas perkotaan memiliki kondisi langit yang relatif lebih gelap sehingga memiliki potensi yang lebih baik.

Melalui WebGIS ORION, pola tersebut dapat diamati secara spasial melalui layer NSB, sehingga pengguna dapat melihat perubahan kondisi langit malam dari kawasan perkotaan menuju wilayah yang memiliki karakteristik lebih rendah intensitas pencahayaannya.

ORION Score

Orion Score Bandung Raya 2025

Salah satu contoh hasil analisis ORION dapat dilihat pada Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung. Berdasarkan hasil analisis, wilayah ini memiliki ORION Score sebesar 63,00 dengan nilai NSB Score 4, Cloud Score 1, dan Access Score 2.

Nilai NSB Score sebesar 4 menunjukkan bahwa Kecamatan Ciwidey memiliki kondisi langit malam yang relatif baik. Nilai tersebut mengindikasikan bahwa tingkat gangguan cahaya malam pada wilayah ini relatif lebih rendah dibandingkan kawasan perkotaan yang memiliki intensitas aktivitas dan pencahayaan malam yang lebih tinggi.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung potensi Ciwidey sebagai lokasi observasi astronomi. Secara spasial, kawasan Ciwidey berada di bagian selatan Bandung Raya dan memiliki karakter wilayah yang berbeda dengan kawasan perkotaan di pusat Bandung. Kondisi ini memberikan peluang untuk memperoleh langit malam yang lebih gelap dan relatif lebih mendukung pengamatan objek astronomi.

Dengan demikian, NSB menjadi salah satu kekuatan utama Ciwidey dalam analisis ORION.

Namun, kondisi langit yang relatif gelap belum secara otomatis menghasilkan lokasi observasi yang ideal. Pada Ciwidey, Cloud Score hanya mencapai 1, yang menunjukkan bahwa berdasarkan parameter tutupan awan yang digunakan dalam ORION, kondisi tersebut relatif kurang mendukung kegiatan observasi astronomi.

Hal ini menjadi faktor pembatas yang cukup penting. Observasi astronomi membutuhkan langit yang tidak hanya bebas dari polusi cahaya, tetapi juga memiliki tingkat keterbukaan yang memungkinkan objek astronomi terlihat dengan baik.

Selain faktor lingkungan, Access Score Ciwidey sebesar 2 menunjukkan bahwa tingkat aksesibilitas berdasarkan parameter Road Density masih relatif rendah.

Artinya, meskipun suatu wilayah memiliki kondisi langit yang baik, lokasi tersebut belum tentu mudah dijangkau. Keterbatasan akses dapat menjadi pertimbangan penting apabila lokasi tersebut nantinya dikembangkan untuk kegiatan astrotourism, khususnya apabila melibatkan wisatawan, komunitas astronomi, maupun fasilitas observasi.

Dalam konteks perencanaan, kondisi ini menghasilkan sebuah trade-off: lokasi yang semakin jauh dari kawasan perkotaan cenderung memiliki keuntungan dari sisi kondisi langit, tetapi dapat memiliki keterjangkauan yang lebih rendah.

Pengembangan Selanjutnya

Pengembangan ORION pada tahap saat ini masih berada pada tahap awal (pilot development) yang difokuskan pada pengujian metodologi, pengolahan data spasial, dan integrasi hasil analisis ke dalam platform WebGIS. Wilayah Bandung Raya digunakan sebagai wilayah pilot sebelum pengembangan diperluas ke cakupan Provinsi Jawa Barat.

Pada tahap berikutnya, ORION akan dikembangkan tidak hanya untuk mengidentifikasi wilayah yang memiliki potensi observasi astronomi, tetapi juga untuk menentukan waktu yang paling sesuai untuk melakukan observasi melalui analisis temporal. Analisis ini akan mempertimbangkan perubahan kondisi parameter dari waktu ke waktu sehingga hasil analisis spasial dapat dikombinasikan dengan dimensi temporal untuk menghasilkan rekomendasi wilayah dan waktu terbaik untuk observasi astronomi.

Selain pengembangan analisis temporal, ORION juga akan diarahkan pada penyempurnaan dan penambahan layer pada WebGIS, perluasan cakupan wilayah analisis dari Bandung Raya menuju Jawa Barat, evaluasi kembali terhadap parameter dan bobot yang digunakan.

Beberapa parameter yang saat ini telah digunakan dalam proses perhitungan, seperti tutupan awan dan Road Density, juga akan dikembangkan agar dapat ditampilkan secara lebih lengkap pada platform. Dengan pengembangan tersebut, ORION diharapkan tidak berhenti sebagai platform visualisasi NSB dan ORION Score, tetapi berkembang menjadi sistem pendukung keputusan berbasis spasial-temporal yang mampu menjawab pertanyaan “di mana dan kapan waktu terbaik untuk melakukan observasi astronomi?” serta mendukung proses perencanaan dan pengembangan astrotourism di Jawa Barat.

Kesimpulan

Pengembangan ORION (Observation & Regional Intelligence for Optimized Night-tourism) dapat digunakan untuk mengidentifikasi potensi lokasi observasi astronomi. Pada tahap pilot di wilayah Bandung Raya, analisis dilakukan dengan mengintegrasikan Night Sky Brightness (NSB), tutupan awan, dan Road Density sebagai indikator aksesibilitas melalui proses standardisasi, scoring, dan pembobotan untuk menghasilkan ORION Score.

Hasil analisis menunjukkan bahwa setiap wilayah memiliki karakteristik dan tingkat potensi yang berbeda karena dipengaruhi oleh kombinasi kondisi langit malam, keterbukaan langit, serta keterjangkauan lokasi. Dengan demikian, lokasi dengan kondisi NSB yang baik belum tentu memiliki ORION Score yang tinggi apabila terdapat faktor pembatas pada parameter lainnya.

Hasil pengolahan tersebut kemudian diintegrasikan ke dalam WebGIS ORION sehingga informasi NSB dan ORION Score dapat divisualisasikan dan dieksplorasi secara spasial. Meskipun beberapa layer penyusun masih berada dalam tahap pengembangan visualisasi, seluruh parameter utama telah digunakan dalam proses perhitungan.

Pada tahap ini, ORION masih merupakan pilot yang berfokus pada pemetaan dan identifikasi potensi spasial. Pengembangan selanjutnya akan diarahkan pada analisis temporal untuk mengidentifikasi perubahan kondisi observasi dari waktu ke waktu dan mengintegrasikannya dengan analisis spasial.

Hasil akhirnya diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi wilayah dan waktu terbaik untuk observasi astronomi, sekaligus mengembangkan ORION dari platform pemetaan potensi menjadi sistem pendukung keputusan berbasis spasial-temporal bagi pengembangan astrotourism di Jawa Barat.

Keterbatasan

Pengembangan ORION pada tahap pilot masih memiliki keterbatasan pada cakupan wilayah yang baru berfokus pada Bandung Raya, jumlah parameter yang digunakan, serta belum adanya analisis temporal dan validasi lapangan secara menyeluruh. Selain itu, beberapa layer hasil analisis masih dalam tahap integrasi ke WebGIS.

Oleh karena itu, ORION Score pada tahap ini perlu dipahami sebagai indikasi potensi relatif wilayah, bukan keputusan final mengenai lokasi dan waktu observasi terbaik. Pengembangan selanjutnya akan diarahkan pada perluasan wilayah, penambahan parameter, analisis temporal, validasi lapangan, serta penyusunan rekomendasi wilayah dan waktu observasi.

Link: https://orion-webgis.netlify.app/

Data Publications

Analisis TOD Potensial Simpul Transportasi di Kota Yogyakarta dengan WebGIS Menggunakan Buffer 400m dan 800m

Transportation

25 Aug 2026

Nadya Fadhilah Febrianti

Analisis TOD Potensial Simpul Transportasi di Kota Yogyakarta dengan WebGIS Menggunakan Buffer 400m dan 800m

Analisis titik transport hub yang memiliki potensial pengembangan TOD di Kota Yogyakarta

3 min read

18 view

1 Projects

Tantangan Pengelolaan Sampah di Palembang dan Peran Teknologi WebGIS dalam Solusinya

Environment

25 Aug 2026

Supriyadi

Tantangan Pengelolaan Sampah di Palembang dan Peran Teknologi WebGIS dalam Solusinya

Permasalahan pengelolaan sampah di Kota Palembang semakin kompleks seiring dengan pertumbuhan penduduk yang mencapai lebih dari 1,7 juta jiwa. Distribusi fasilitas pengelolaan sampah yang tidak merata dan minimnya aksesibilitas informasi spasial kepada masyarakat menjadi hambatan utama dalam optimalisasi layanan persampahan. Penelitian ini bertujuan untuk membangun sistem WebGIS interaktif bernama EcoMap Palembang sebagai platform peta digital berbasis web yang mampu memvisualisasikan sebaran fasilitas pengelolaan sampah secara komprehensif, melakukan analisis spasial keterjangkauan layanan menggunakan isokron berbasis data jalan nyata, serta mengidentifikasi kebutuhan fasilitas baru pada area yang belum terlayani. Metode yang digunakan meliputi pengembangan WebGIS berbasis Leaflet.js, integrasi data GeoJSON dari SIPSN KLHK, analisis isokron menggunakan MAPID Routing API dan OpenRouteService, serta visualisasi spasial multi-layer dengan Turf.js sebagai pustaka geoprocessing. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa EcoMap Palembang berhasil memetakan 8 kategori fasilitas pengelolaan sampah di 18 kecamatan, menghasilkan analisis keterjangkauan berbasis isokron yang akurat, serta merekomendasikan lokasi fasilitas baru berdasarkan gap layanan yang teridentifikasi. Platform ini diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan berbasis data bagi Pemerintah Kota Palembang dalam perencanaan infrastruktur persampahan yang lebih efektif dan efisien.

23 min read

63 view

1 Projects

Pengembangan WebGIS "Peta Kerja Lahan Baku Sawah" Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta: Rekayasa Pipeline Data Geospasial Skala Besar dan Rancangan Instrumen Pemutakhiran Kronologis Berbasis Partisipasi Petani dan Penyuluh

Agriculture

24 Aug 2026

Alvito Krishna Balapradhana

Pengembangan WebGIS "Peta Kerja Lahan Baku Sawah" Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta: Rekayasa Pipeline Data Geospasial Skala Besar dan Rancangan Instrumen Pemutakhiran Kronologis Berbasis Partisipasi Petani dan Penyuluh

Aplikasi peta interaktif Lahan Baku Sawah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang membuka jalan bagi petani dan penyuluh untuk melengkapi riwayat setiap petak sawah — mulai dari musim tanam, kondisi lahan, hingga perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu — langsung dari peta yang mereka lihat sehari-hari

10 min read

59 view

1 Projects

Plantation Spatial Explorer: Deteksi Dini Block Underperform di Perkebunan Sawit melalui Integrasi Peta dan Data Operasional

Agriculture

24 Aug 2026

Haidar Ismail

Plantation Spatial Explorer: Deteksi Dini Block Underperform di Perkebunan Sawit melalui Integrasi Peta dan Data Operasional

Plantation Spatial Explorer dibangun untuk menjembatani dua dunia yang biasanya terpisah ini: data spasial (batas Estate dan Block) dan data operasional (produksi, pupuk, sampel daun), digabung jadi satu WebGIS interaktif yang bisa langsung menunjukkan di mana masalah terjadi, seberapa parah, dan apakah itu kasus terisolasi atau pola bersama dengan block tetangganya — tanpa manager harus scroll tabel satu per satu.

9 min read

125 view

Terms and Conditions
Introductions
  • MAPID is a platform that provides Geographic Information System (GIS) services for managing, visualizing, and analyzing geospatial data.
  • This platform is owned and operated by PT Multi Areal Planing Indonesia, located at