ANALISIS PENGARUH VEGETASI DAN KEPADATAN PENDUDUK TERHADAP SUHU PERMUKAAN LAHAN DI SEKITAR TAHURA Ir. H. DJUANDA KOTA BANDUNG

12 March 2026

By: Salwa Dwi INTERN MAPID

Open Project

LST TAHURA

Kawasan Sekitar Tahura

1. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Kawasan sekitar Tahura Ir. H. Djuanda merupakan wilayah peralihan antara kawasan hutan lindung dan area permukiman yang terus berkembang. Wilayah Bandung Utara, terutama di wilayah Dago dan Dago Pakar mengalami perkembangan pesat yang terlihat dari pembangunan kawasan permukiman, vila, hotel, serta fasilitas pariwisata dan komersial. Perkembangan fisik Kota Bandung cenderung mengarah ke wilayah utara karena faktor akses jalan utama dan potensi kawasan perbukitan yang mendorong pembangunan permukiman dan fasilitas pendukung lainnya (Wang et al., 2015). Di sisi lain, kawasan Tahura juga memiliki potensi wisata alam dan ekologi yang mendorong pengembangan aktivitas pariwisata dan ruang publik di sekitarnya. Perubahan penggunaan lahan dari vegetasi alami menuju kawasan terbangun tersebut berpotensi memengaruhi kondisi lingkungan setempat. Perbedaan karakteristik ini berpotensi mempengaruhi distribusi suhu permukaan lahan secara spasial.

Perubahan penggunaan lahan akibat perkembangan permukiman dan aktivitas sosial-ekonomi di Kota Bandung dapat meningkatkan suhu permukaan melalui dominasi material kedap air seperti beton dan aspal yang menyerap dan menyimpan panas. Fenomena ini dikenal sebagai Urban Heat Island (UHI), yaitu kondisi dimana wilayah terbangun cenderung memiliki suhu lebih tinggi dibandingkan area yang masih didominasi vegetasi (Imran et al., 2021). Di Kota Bandung, fenomena Urban Heat Island (UHI) muncul karena dipengaruhi oleh perubahan tutupan lahan dan penurunan kerapatan vegetasi. peningkatan luas lahan terbangun serta kepadatan aktivitas perkotaan menyebabkan kenaikan suhu permukaan lahan di berbagai bagian kota, terutama pada kawasan dengan kepadatan bangunan tinggi dan vegetasi yang terbatas. Sebaliknya, vegetasi berperan dalam menurunkan suhu melalui mekanisme evapotranspirasi dan efek peneduhan, sehingga berfungsi sebagai elemen penyeimbang termal dalam lanskap perkotaan (Tazkiatun Naf & Hernawati, 2018).

Indeks vegetasi seperti Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) dapat digunakan untuk merepresentasikan tingkat kehijauan suatu wilayah, sementara kepadatan penduduk dapat menjadi indikator intensitas pembangunan dan tekanan terhadap lingkungan.NDVI di Bandung menunjukkan variasi yang cukup jelas antara kawasan pusat kota yang didominasi oleh lahan terbangun dan wilayah pinggiran yang masih memiliki tutupan vegetasi relatif lebih tinggi. Kawasan dengan kepadatan bangunan tinggi di pusat kota cenderung memiliki nilai NDVI rendah karena minimnya ruang terbuka hijau, sedangkan wilayah Bandung bagian utara yang masih memiliki kawasan hutan, ruang terbuka hijau, serta vegetasi alami menunjukkan nilai NDVI yang lebih tinggi (Imran et al., 2021). Kondisi ini menunjukkan adanya perbedaan tingkat kehijauan yang dipengaruhi oleh pola penggunaan lahan dan perkembangan wilayah perkotaan. Interaksi antara kondisi vegetasi dan kepadatan penduduk di lima kecamatan tersebut membentuk dinamika termal yang kompleks, terutama pada kawasan yang berada di sekitar Tahura sebagai zona penyangga ekologis.

Tahura Ir. H. Djuanda memiliki fungsi penting sebagai kawasan konservasi dan penyeimbang iklim mikro, dinamika suhu permukaan di wilayah sekitarnya belum banyak dikaji secara kuantitatif pada skala spasial yang lebih detail. Secara ekologis, Tahura berperan sebagai kawasan pelestarian alam yang memiliki fungsi utama dalam menjaga keanekaragaman hayati, melindungi ekosistem hutan, serta mempertahankan fungsi hidrologis dan keseimbangan lingkungan di wilayah Bandung dan sekitarnya. Selain itu, vegetasi hutan di Tahura juga berperan dalam menurunkan suhu udara dan suhu permukaan lahan melalui efek peneduhan dan pelepasan uap air, sehingga membantu menjaga kestabilan iklim mikro di kawasan Bandung bagian utara. Dengan fungsi ekologis tersebut, Tahura tidak hanya menjadi kawasan konservasi keanekaragaman hayati, tetapi juga berperan sebagai penyangga ekologis yang dapat mengurangi dampak tekanan pembangunan perkotaan di wilayah sekitarnya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh vegetasi dan kepadatan penduduk terhadap suhu permukaan lahan di Kecamatan Lembang, Cimenyan, Cidadap, Coblong, dan Cibeunying Kaler dengan memanfaatkan data penginderaan jauh dan analisis regresi linear. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran empiris mengenai hubungan antara kondisi ekologis dan tekanan pembangunan terhadap dinamika suhu permukaan di kawasan sekitar Tahura.

1.2 Tujuan

  1. 1.
    Menganalisis distribusi suhu permukaan lahan (Land Surface Temperature/LST) di wilayah sekitar Tahura Ir. H. Djuanda berdasarkan pengolahan citra Landsat tahun 2024.
  1. 2.
    Mengidentifikasi tingkat kerapatan vegetasi menggunakan indeks NDVI serta pola persebarannya di wilayah penelitian.
  1. 3.
    Menganalisis hubungan antara vegetasi (NDVI) dan kepadatan penduduk terhadap suhu permukaan lahan (LST) menggunakan metode regresi linear berganda (OLS).
  1. 4.
    Menjelaskan peran vegetasi, khususnya kawasan Tahura Ir. H. Djuanda, sebagai penyangga ekologis dalam mengendalikan suhu permukaan dan mengurangi dampak fenomena Urban Heat Island (UHI) di wilayah sekitarnya.

2. Metode

2.1 Lokasi Penelitian

Gambar 1 Peta Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di kawasan sekitar Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda yang secara administratif mencakup beberapa desa di wilayah Kota Bandung dan Kabupaten Bandung Barat, yaitu Desa Cibodas, Lembang, Kayuambon, Langensari, Cibogo, Suntenjaya, Wangunharja, Cikole, Cikidang, Jayagiri, Sukajaya, Cikahuripan, Gudangkahuripan, Cigadung, Mekarsaluyu, Mekarmanik, Ciburial, Cimenyan, Cibeunying, Mekarwangi, Wangunsari, Pagerwangi, Cihaur Geulis, Cipaganti, Dago, Lebak Gede, Lebak Siliwangi, Neglasari, Sadang Serang, Sekeloa, Sukaluyu, Padasuka, Sindanglaya, Cikadut, dan Mandalamekar. Desa tersebut merupakan wilayah yang berbatasan langsung atau berada di sekitar kawasan Tahura sebagai zona penyangga ekologis.

Secara geografis, wilayah penelitian berada pada bagian utara Cekungan Bandung dengan karakteristik topografi yang bervariasi, mulai dari dataran tinggi hingga wilayah dengan kemiringan lereng sedang. Kecamatan Lembang dan sebagian Cimenyan memiliki elevasi relatif lebih tinggi dan tutupan vegetasi yang dominan, sedangkan Coblong dan Cibeunying Kaler merupakan kawasan dengan tingkat urbanisasi dan kepadatan penduduk yang lebih tinggi.

Wilayah penelitian didominasi oleh tutupan vegetasi, sedangkan Kecamatan Coblong dan Cibeunying Kaler merupakan kawasan dengan tingkat urbanisasi dan kepadatan penduduk yang lebih tinggi. Dalam konteks ini, Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) digunakan untuk merepresentasikan tingkat kerapatan vegetasi karena indeks ini mampu menggambarkan kondisi kehijauan permukaan lahan berdasarkan analisis citra satelit. Sementara itu, kepadatan penduduk digunakan sebagai indikator tingkat tekanan aktivitas manusia terhadap lingkungan. Penggunaan kedua variabel tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai hubungan antara kondisi tutupan vegetasi dan intensitas urbanisasi di wilayah penelitian.

Variasi karakteristik fisik dan sosial tersebut menjadikan kawasan ini relevan untuk menganalisis hubungan antara vegetasi, kepadatan penduduk, dan suhu permukaan lahan dalam konteks dinamika kawasan peri-urban dan fenomena Urban Heat Island (UHI). Dengan demikian, penelitian pada wilayah sekitar Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda di Bandung menjadi penting untuk memahami bagaimana perubahan tutupan lahan dan tekanan pembangunan perkotaan memengaruhi kondisi termal lingkungan secara spasial.

2.2 Variable Penelitian

2.2.1 Land Surface Temperature (LST)

Land Surface Temperature (LST) merupakan suhu yang diukur pada permukaan bumi dan dipengaruhi oleh kondisi penutup lahan, aktivitas manusia, serta karakteristik lingkungan sekitar (Suryani, 2024). LST sering digunakan dalam studi lingkungan dan perkotaan untuk mengidentifikasi fenomena seperti urban heat island, yaitu peningkatan suhu pada wilayah perkotaan dibandingkan dengan daerah sekitarnya.

Dalam penelitian ini, LST dihitung menggunakan citra Landsat 8 dan Landsat 9 Level 2 tahun 2024 melalui platform Google Earth Engine (GEE). Proses perhitungan LST dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu masking awan, konversi nilai digital number menjadi brightness temperature, perhitungan NDVI, penentuan emissivity, serta penerapan persamaan mono-window untuk memperoleh suhu permukaan dalam satuan derajat Celcius. Nilai LST kemudian dirata-ratakan pada setiap wilayah analisis sehingga menghasilkan nilai mean LST yang digunakan sebagai variabel dependen dalam analisis regresi (Wang et al., 2015).

2.2.2 Normalized Difference Vegetation Index (NDVI)

Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) merupakan indeks vegetasi yang digunakan untuk mengukur tingkat kehijauan dan kerapatan vegetasi pada suatu wilayah. NDVI dihitung menggunakan rasio antara reflektansi spektral pada band Near Infrared (NIR) dan Red. Pada citra Landsat 8 dan 9, NDVI dihitung menggunakan band SR_B5 (NIR) dan SR_B4 (Red). Nilai NDVI berkisar antara -1 hingga 1, dimana nilai yang lebih tinggi menunjukkan vegetasi yang lebih rapat dan sehat (Rahimi et al., 2025). Dalam penelitian ini, nilai NDVI dihitung dari citra Landsat tahun 2024 kemudian dirata-ratakan pada setiap wilayah analisis untuk memperoleh nilai mean NDVI yang digunakan sebagai variabel independen dalam analisis regresi.

2.2.3 Kepadatan Penduduk

Kepadatan penduduk merupakan indikator demografis yang menunjukkan jumlah penduduk dalam suatu wilayah per satuan luas. Kepadatan penduduk dihitung dengan membagi jumlah penduduk dengan luas wilayah administrasi (BPS, 2026).

Dalam penelitian ini, data jumlah penduduk diperoleh dari dataset administrasi wilayah yang kemudian dihitung kepadatannya dalam satuan jiwa per kilometer persegi (jiwa/km²). Nilai kepadatan penduduk digunakan sebagai variabel independen untuk menganalisis pengaruh aktivitas manusia terhadap variasi suhu permukaan lahan.

2.3 Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis kuantitatif berbasis penginderaan jauh dan analisis statistik. Data LST dan NDVI diperoleh dari citra satelit Landsat 8 dan Landsat 9 tahun 2024 yang diproses menggunakan Google Earth Engine (GEE). Sementara itu, data kepadatan penduduk diperoleh dari data administrasi wilayah yang dihitung berdasarkan jumlah penduduk dan luas wilayah. Tahapan penelitian meliputi pengumpulan data citra Landsat tahun 2024, pengolahan citra untuk memperoleh nilai LST dan NDVI, perhitungan kepadatan penduduk pada setiap wilayah analisis, serta proses overlay data LST, NDVI, dan kepadatan penduduk. Analisis hubungan antar variabel dilakukan menggunakan regresi linear berganda dengan metode Ordinary Least Square (OLS) pada software R Studio dengan tingkat kepercayaan 99%. Metode OLS merupakan teknik estimasi dalam regresi linear yang digunakan untuk menentukan hubungan antara satu variabel dependen dan satu atau lebih variabel independen dengan cara meminimalkan jumlah kuadrat selisih (residual) antara nilai hasil pengamatan dan nilai prediksi model. Selanjutnya dilakukan uji t untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen dengan melihat signifikansi koefisien regresi setiap variabel. Selain itu, uji F digunakan untuk menguji signifikansi model regresi secara keseluruhan, yaitu untuk mengetahui apakah seluruh variabel independen secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependen. Kemudian koefisien determinasi (R²) digunakan untuk mengukur seberapa besar kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variasi pada variabel dependen. Dalam penelitian ini, Land Surface Temperature (LST) merupakan variabel dependen, sedangkan Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) dan kepadatan penduduk merupakan variabel independen. Alur penelitian dapat dilihat pada gambar 2 Diagram Alir Penelitian

Gambar 2 Diagram Alir Penelitian

3. Hasil dan Pembahasan

3.1 Hasil

Gambar 3 Peta LST

Peta Land Surface Temperature (LST) tahun 2024 pada gambar 3 menunjukkan variasi suhu permukaan yang cukup jelas di wilayah penelitian sekitar Tahura Ir. H. Djuanda. Suhu permukaan yang lebih rendah (ditunjukkan oleh warna biru hingga biru tua) umumnya terdapat pada bagian utara wilayah penelitian yang masih didominasi oleh tutupan vegetasi dan kawasan hutan Tahura. Sebaliknya, suhu permukaan yang lebih tinggi (warna kuning hingga merah) banyak ditemukan pada bagian selatan wilayah penelitian yang didominasi oleh kawasan permukiman dan area terbangun. Pola ini menunjukkan adanya hubungan antara tutupan lahan dengan distribusi suhu permukaan, dimana kawasan dengan vegetasi yang lebih rapat cenderung memiliki suhu yang lebih rendah karena adanya efek peneduhan dan proses evapotranspirasi. Sementara itu, wilayah dengan dominasi permukaan terbangun seperti beton dan aspal memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan panas lebih besar sehingga menghasilkan suhu permukaan yang lebih tinggi. Dengan demikian, peta ini memperlihatkan adanya gradien suhu dari kawasan hutan di bagian utara menuju kawasan perkotaan di bagian selatan yang mencerminkan pengaruh kondisi penggunaan lahan terhadap dinamika suhu permukaan di sekitar Tahura Ir. H. Djuanda.

Gambar 4 Peta NDVI

Pada gambar 4 Peta NDVI tahun 2024 menunjukkan tingkat kerapatan vegetasi yang bervariasi di wilayah sekitar Tahura Ir. H. Djuanda. Nilai NDVI yang tinggi (ditunjukkan oleh warna hijau tua dengan nilai mendekati 0,8) dominan terdapat pada bagian utara dan timur wilayah penelitian yang masih didominasi oleh kawasan hutan dan vegetasi alami, terutama di area inti Tahura. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan tersebut memiliki tutupan vegetasi yang rapat dan kondisi vegetasi yang relatif sehat. Sebaliknya, nilai NDVI yang lebih rendah (warna kuning hingga coklat muda) lebih banyak ditemukan pada bagian selatan wilayah penelitian yang merupakan kawasan dengan tingkat urbanisasi lebih tinggi, seperti permukiman dan area terbangun di sekitar Coblong dan Cibeunying Kaler. Pola distribusi ini menunjukkan adanya perbedaan tingkat kehijauan antara kawasan hutan dan kawasan perkotaan di sekitar Tahura. Secara umum, peta NDVI menggambarkan bahwa kawasan Tahura Ir. H. Djuanda berfungsi sebagai area dengan kerapatan vegetasi tinggi yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekologis dan kondisi lingkungan di wilayah Bandung bagian utara.

Gambar 5 Peta Kepadatan Penduduk

Pada gambar 5 Peta Kepadatan Penduduk menunjukkan distribusi kepadatan penduduk di wilayah sekitar Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda. Skala warna dari kuning hingga merah menggambarkan tingkat kepadatan penduduk, di mana warna kuning menunjukkan kepadatan rendah, sedangkan warna merah menunjukkan kepadatan penduduk yang tinggi (hingga sekitar 10.000 jiwa/km²). Area Tahura ditampilkan dengan warna hijau yang menandai kawasan hutan konservasi.

Berdasarkan peta, wilayah bagian selatan yang berbatasan dengan kawasan perkotaan Kota Bandung memiliki kepadatan penduduk lebih tinggi yang ditunjukkan oleh warna oranye hingga merah. Sebaliknya, wilayah bagian utara dan timur yang lebih dekat dengan kawasan hutan dan daerah perbukitan memiliki kepadatan penduduk yang relatif lebih rendah. Pola ini menunjukkan bahwa tingkat kepadatan penduduk cenderung meningkat pada kawasan yang lebih terurbanisasi, sementara wilayah yang masih memiliki tutupan vegetasi dan kawasan konservasi seperti Tahura memiliki kepadatan penduduk yang lebih rendah.

Hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa NDVI dan kepadatan penduduk memiliki hubungan dengan variasi suhu permukaan lahan (LST). Berdasarkan hasil perhitungan regresi diperoleh persamaan model sebagai berikut.

LST = 52.56057 − 34.19949(NDVI) − 0.0001376858(Kepadatan Penduduk).

Koefisien regresi NDVI sebesar -34.19949 menunjukkan bahwa peningkatan nilai NDVI berhubungan dengan penurunan suhu permukaan lahan. Hal ini menunjukkan bahwa wilayah dengan tingkat kehijauan yang lebih tinggi cenderung memiliki suhu permukaan yang lebih rendah karena vegetasi berperan dalam memberikan efek peneduhan serta menurunkan suhu melalui proses evapotranspirasi. Dengan demikian, vegetasi memiliki peran penting dalam mengendalikan suhu lingkungan pada wilayah perkotaan.

Sementara itu, koefisien regresi kepadatan penduduk bernilai negatif sebesar -0.0001376858, yang secara matematis menunjukkan bahwa peningkatan kepadatan penduduk di wilayah penelitian diikuti oleh sedikit penurunan suhu permukaan lahan. Meskipun secara umum teori Urban Heat Island (UHI) menyatakan bahwa peningkatan aktivitas perkotaan dan kepadatan penduduk cenderung meningkatkan suhu permukaan, hasil penelitian ini menunjukkan pola yang berbeda. Kondisi tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh karakteristik wilayah penelitian di sekitar Tahura Ir. H. Djuanda yang masih memiliki tutupan vegetasi yang cukup luas. Keberadaan vegetasi di sekitar kawasan permukiman dapat memberikan efek pendinginan yang cukup kuat sehingga pengaruh vegetasi terhadap suhu permukaan menjadi lebih dominan dibandingkan pengaruh kepadatan penduduk.

Nilai p-value NDVI sebesar 3.586569 × 10⁻¹⁸ menunjukkan bahwa NDVI memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap LST. Selain itu, nilai p-value kepadatan penduduk sebesar 9.455096 × 10⁻⁴ juga menunjukkan bahwa variabel tersebut berpengaruh signifikan pada tingkat kepercayaan 99%, karena syarat p-value untuk variabel tersebut dapat dikatakan signifikan secara statistik sebesar 0.01 meskipun kontribusinya relatif lebih kecil dibandingkan NDVI.

3.2 Pembahasan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa vegetasi memiliki peran penting dalam mengendalikan suhu permukaan lahan. Nilai NDVI yang tinggi berkorelasi dengan suhu permukaan yang lebih rendah karena vegetasi mampu menyerap radiasi matahari serta menurunkan suhu melalui proses evapotranspirasi.

Fenomena ini sering ditemukan pada wilayah perkotaan dimana area dengan tutupan vegetasi yang rendah cenderung memiliki suhu permukaan yang lebih tinggi. Kondisi ini berkaitan dengan fenomena urban heat island, yaitu peningkatan suhu pada kawasan yang didominasi oleh permukaan terbangun seperti beton dan aspal.

Kepadatan penduduk juga menunjukkan pengaruh terhadap variasi suhu permukaan. Wilayah dengan kepadatan penduduk yang tinggi biasanya memiliki aktivitas pembangunan dan penggunaan lahan yang lebih intensif sehingga meningkatkan kemampuan permukaan dalam menyerap dan menyimpan panas.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan ruang terbuka hijau sangat penting dalam menjaga keseimbangan suhu lingkungan, terutama pada wilayah dengan tingkat urbanisasi yang tinggi.

Keberadaan Tahura Ir. H. Djuanda sebagai kawasan hutan kota memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan suhu lingkungan di sekitarnya. Kawasan ini berfungsi sebagai ruang terbuka hijau yang dapat mengurangi dampak peningkatan suhu akibat aktivitas perkotaan. Dengan adanya tutupan vegetasi yang luas, Tahura dapat berperan sebagai penyangga ekologis (ecological buffer) yang membantu menurunkan suhu permukaan lahan di wilayah sekitarnya.

Hasil penelitian ini juga sejalan dengan berbagai penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa peningkatan tutupan vegetasi berkontribusi dalam menurunkan suhu permukaan serta mengurangi fenomena urban heat island (UHI) pada wilayah perkotaan. Penelitian mengenai hubungan antara NDVI dan Land Surface Temperature (LST) di Kota Malang menunjukkan bahwa peningkatan nilai NDVI sebesar 0,1 dapat menurunkan suhu permukaan sekitar 0,339°C, yang menegaskan bahwa vegetasi memiliki efek pendinginan terhadap lingkungan perkotaan melalui proses peneduhan dan evapotranspirasi (Hasyim et al., 2025).

Temuan serupa juga ditunjukkan dalam penelitian mengenai hubungan tutupan vegetasi dan suhu permukaan di Kota Medan yang menemukan hubungan negatif antara NDVI dan LST dengan nilai korelasi sekitar -0,476 hingga -0,493, yang menunjukkan bahwa semakin tinggi kerapatan vegetasi maka suhu permukaan cenderung semakin rendah.

Selain itu, penelitian mengenai fenomena UHI di Kota Bandung juga menunjukkan bahwa penurunan luas tutupan vegetasi sekitar 8,4 km² diikuti oleh peningkatan intensitas dan perluasan wilayah urban heat island, dimana area non-vegetasi atau permukaan terbangun menjadi wilayah yang paling terdampak peningkatan suhu permukaan.

Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa keberadaan kawasan hijau seperti Tahura Ir. H. Djuanda memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga kualitas lingkungan perkotaan, khususnya dalam menurunkan suhu permukaan dan mengurangi dampak fenomena urban heat island akibat urbanisasi.

Secara keseluruhan, menunjukkan bahwa vegetasi merupakan faktor utama yang mempengaruhi variasi suhu permukaan lahan di sekitar Tahura Ir. H. Djuanda, sementara kepadatan penduduk juga memberikan kontribusi terhadap perubahan suhu permukaan meskipun dengan pengaruh yang lebih kecil. Hal ini menunjukkan pentingnya menjaga dan meningkatkan tutupan vegetasi di kawasan perkotaan sebagai salah satu strategi untuk mengurangi peningkatan suhu lingkungan.

4. Kesimpulan

Meskipun secara umum peningkatan kepadatan penduduk sering diasosiasikan dengan peningkatan suhu permukaan lahan akibat bertambahnya permukaan terbangun, pada penelitian ini koefisien regresi kepadatan penduduk menunjukkan nilai negatif (-0,0001376858) yang mengindikasikan bahwa peningkatan kepadatan penduduk justru diikuti oleh sedikit penurunan nilai LST. Kondisi ini dapat terjadi karena karakteristik wilayah penelitian yang masih memiliki tutupan vegetasi yang cukup luas, sehingga meskipun kepadatan penduduk meningkat, keberadaan vegetasi tetap berperan dalam menurunkan suhu permukaan. Selain itu, distribusi penduduk tidak selalu berbanding lurus dengan dominasi permukaan terbangun, karena pada beberapa wilayah dengan kepadatan penduduk yang tinggi masih terdapat ruang terbuka hijau atau vegetasi yang cukup dominan (Rahimi et al., 2025).

Selain itu, beberapa penelitian berbasis penginderaan jauh juga menunjukkan bahwa kerapatan vegetasi memiliki hubungan negatif yang kuat dengan LST, di mana peningkatan vegetasi dapat menurunkan suhu permukaan melalui proses peneduhan dan evapotranspirasi. Oleh karena itu, pada wilayah yang masih memiliki tutupan vegetasi cukup tinggi, pengaruh kepadatan penduduk terhadap peningkatan suhu permukaan dapat menjadi lebih kecil bahkan menunjukkan hubungan yang berbeda dari hipotesis umum.

Dengan demikian, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa vegetasi tetap menjadi faktor dominan dalam mengendalikan suhu permukaan lahan, sementara kepadatan penduduk memberikan pengaruh yang lebih kecil dan sangat dipengaruhi oleh kondisi penggunaan lahan serta keberadaan ruang terbuka hijau di wilayah penelitian.

Daftar Pustaka

BPS. (2026, - -). Detail Metadata Indikator Statistik. SIRUSA. https://sirusa.web.bps.go.id/metadata/indikator/89673?

Hasyim, A. W., Sukojo, B. M., Anggraini, I. A., Fatahillah, E. R., & Isdianto, A. (2025). Urban Heat Island Effect and Sustainable Planning: Analysis of Land Surface Temperature and Vegetation in Malang City. International Journal of Sustainable Development and Planning, 20(2), -.

Imran, H.M., Shammas, M. I., Rahman, A., Jacobs, S. J., Ng, A.W. M., & Muthukumaran, S. (2021). Causes, Modeling and Mitigation of Urban Heat Island: A Review. Earth Science, 10(6), -. https://sciencepublishinggroup.com/article/10.11648/j.earth.20211006.11?

Rahimi, E., Dong, P., & Jung, C. (2025). Global NDVI-LST Correlation: Temporal and Spatial Patterns from 2000 to 2024. MDPI, 12(2), 67. https://www.mdpi.com/2076-3298/12/2/67

Suryani, N. D. (2024). KAJIAN PENGARUH TUTUPAN LAHAN TERHADAP INTENSITAS URBAN HEAT ISLAND (STUDI KASUS: KECAMATAN CIKARANG BARAT, KECAMATAN TAMBUN SELATAN, KECAMATAN TAMBELANG, DAN KECAMATAN BOJONGMANGU). Repository ITSB, -(-), -. https://repository.itsb.ac.id/id/eprint/1075/

Tazkiatun Naf, M. Z., & Hernawati, R. (2018). Analisis Fenomena UHI (Urban Heat Island) Berdasarkan Hubungan Antara Kerapatan Vegetasi Dengan Suhu Permukaan (Studi Kasus: Kota Bandung, Jawa Barat). Jurnal ITB, 7(1), -. https://journals.itb.ac.id/index.php/ijog/article/view/9994?

Wang, F., Qin, Z., Song, C., Tu, L., Karnieli, A., & Zhao, S. (2015). An Improved Mono-Window Algorithm for Land Surface Temperature Retrieval from Landsat 8 Thermal Infrared Sensor Data. MDPI, 7(4), -. https://doi.org/10.3390/rs70404268

Data Publications

PENENTUAN LOKASI STRATEGIS BISNIS F&B 
BERBASIS DATA DEMOGRAFI DAN POLA AKTIVITAS 
DI KOTA BANDUNG

Food & Beverages

11 Mar 2026

AFI INTERN MAPID

PENENTUAN LOKASI STRATEGIS BISNIS F&B BERBASIS DATA DEMOGRAFI DAN POLA AKTIVITAS DI KOTA BANDUNG

Strategi sukses bisnis F&B di Bandung melalui analisis variabel demografi, POI, dan teknologi geospasial untuk pemilihan lokasi usaha yang akurat.

24 min read

67 view

1 Projects

ANALISIS KESIAPAN BONUS DEMOGRAFI KOTA BANDUNG: SINYAL INVESTASI JANGKA PANJANG

City Planning

11 Mar 2026

Khofifatun Nurrohmah INTERN MAPID

ANALISIS KESIAPAN BONUS DEMOGRAFI KOTA BANDUNG: SINYAL INVESTASI JANGKA PANJANG

Analisis sektor ekonomi potensial dan tipologi wilayah di Kota Bandung memberikan peta jalan bagi investor dan pemerintah untuk optimalisasi momentum bonus demografi dan percepatan pembangunan ekonomi.

37 min read

78 view

1 Data

Analisis Lokasi Strategis Coffee Shop di Jakarta Pusat Menggunakan GIS dan QGIS

Food & Beverages

07 Mar 2026

Muh Fiqri Abdi Rabbi

Analisis Lokasi Strategis Coffee Shop di Jakarta Pusat Menggunakan GIS dan QGIS

Abstrak Pertumbuhan industri coffee shop di kawasan perkotaan mendorong meningkatnya kebutuhan akan metode yang sistematis dalam menentukan lokasi usaha yang strategis. Pemilihan lokasi yang tidak tepat dapat mengakibatkan rendahnya jumlah pengunjung serta tingginya tingkat persaingan dengan usaha sejenis. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan berbasis data untuk mengidentifikasi lokasi yang memiliki potensi pasar tinggi serta aksesibilitas yang baik terhadap pusat aktivitas kota. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi lokasi potensial pembukaan coffee shop baru di wilayah Jakarta Pusat dengan memanfaatkan teknologi Geographic Information System (GIS). Metode yang digunakan mengintegrasikan analisis potensi wilayah dengan analisis aksesibilitas menggunakan pendekatan service area dan overlay spasial. Data yang digunakan meliputi grid potensi lokasi hasil analisis Site Analyst, batas administrasi wilayah, data stasiun transportasi publik, pusat perbelanjaan, serta data coffee shop eksisting. Analisis dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu pengolahan data spasial, penggabungan nilai potensi lokasi dengan wilayah administratif, pembuatan service area dari stasiun dan pusat perbelanjaan, serta proses overlay untuk mengidentifikasi area yang memiliki kombinasi potensi pasar dan aksesibilitas tinggi. Hasil analisis menunjukkan bahwa wilayah yang memiliki potensi tinggi untuk pengembangan coffee shop umumnya berada pada area yang dekat dengan pusat aktivitas kota, khususnya simpul transportasi dan kawasan perdagangan. Area yang berada dalam jangkauan service area dari fasilitas tersebut menunjukkan tingkat aksesibilitas yang lebih baik dan memiliki peluang yang lebih besar untuk menarik pengunjung. Berdasarkan hasil pemeringkatan lokasi kandidat, diperoleh beberapa titik lokasi yang direkomendasikan sebagai lokasi potensial untuk pembukaan coffee shop baru di Jakarta Pusat. Penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan GIS dalam analisis lokasi usaha dapat membantu proses pengambilan keputusan secara lebih objektif dan berbasis data, sehingga dapat meningkatkan efektivitas dalam menentukan lokasi bisnis yang strategis.

9 min read

133 view

1 Projects

Analisis Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Permukiman di Yogyakarta: Pendekatan Multi-Kriteria Berbasis Risiko dan Valuasi Ekonomi

City Planning

24 Feb 2026

MAPID

Analisis Kesesuaian Lahan untuk Pengembangan Permukiman di Yogyakarta: Pendekatan Multi-Kriteria Berbasis Risiko dan Valuasi Ekonomi

Jelajahi dampak urbanisasi di Daerah Istimewa Yogyakarta dan bagaimana MCDA berbasis GIS membantu menentukan lokasi hunian yang aman, ekonomis, dan berkelanjutan.

35 min read

329 view

1 Projects

Terms and Conditions
Introductions
  • MAPID is a platform that provides Geographic Information System (GIS) services for managing, visualizing, and analyzing geospatial data.
  • This platform is owned and operated by PT Multi Areal Planing Indonesia, located at